“Kami berharap ada bimbingan dari KPU agar anak-anak siap menggunakan hak pilihnya ketika mengikuti pemilu,” ungkap Edi.
Edi juga berharap edukasi demokrasi bagi siswa SLB dapat terus dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan masing-masing peserta didik.
Ia mencontohkan pemilih tunanetra membutuhkan fasilitas yang sesuai, seperti surat suara dengan huruf Braille, serta bimbingan teknis agar dapat memahami tata cara menggunakan hak pilih.
“Anak-anak perlu memahami bagaimana suara mereka disalurkan dalam pemilu, termasuk melalui layanan yang sesuai bagi penyandang disabilitas,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris yang turut melakukan monitoring di SLB Negeri Purwosari mengapresiasi pelibatan siswa berkebutuhan khusus dalam Pilketos Serentak.
Ia menilai kegiatan tersebut memberikan ruang yang setara bagi siswa untuk belajar mengenai demokrasi sekaligus menggunakan hak suara dalam menentukan pemimpin di sekolah.
“Ini menjadi pembelajaran bagi anak-anak, termasuk memberikan ruang dan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk memiliki hak pilih dan hak suara,” kata Sam’ani.
Sam’ani juga mengingatkan seluruh siswa untuk menerima hasil pemilihan dengan sikap saling menghormati. Perbedaan pilihan, menurutnya, merupakan bagian dari proses demokrasi.
“Yang menang dan kalah itu hal biasa. Siapa pun yang terpilih harus dihormati dan didukung,” ujarnya.
Pelaksanaan Pilketos di SLB Negeri Purwosari Kudus berlangsung lancar tanpa kendala berarti. Sekolah tersebut sebelumnya juga telah menggelar pemilihan Ketua OSIS secara mandiri, namun Pilketos tahun ini menjadi bagian dari kegiatan serentak yang melibatkan KPU Kudus.
Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar memilih Ketua OSIS. Mereka juga mendapatkan pengalaman mengenai hak suara, proses menentukan pilihan, serta pentingnya menghormati keputusan dan pilihan orang lain.***
