“Tim dari BBWS turun langsung ke lapangan. Ini kondisi darurat, jadi semua bergerak bersama. Ada PUPR, kecamatan, relawan, sampai warga ikut terlibat,” ungkapnya.
Nuur Taufik juga mengungkapkan bahwa jebolnya tanggul terjadi secara tiba-tiba pada pagi hari akibat derasnya hujan.
“Sekitar pukul 10.00 WIB kejadiannya. Sulit diprediksi, karena di satu sisi sudah ditanggul, tapi di sisi lain tekanannya sangat besar akibat hujan dengan intensitas tinggi,” jelasnya.
Ia menilai, meski berdampak pada genangan, jebolnya tanggul justru mencegah luapan air yang lebih besar ke permukiman warga.
“Kalau tidak jebol, air pasti meluber ke mana-mana. Mudah-mudahan ini jadi pelajaran agar ke depan ada pembangunan permanen. Harapan kami tanggul bisa dibeton seperti arahan Pak Bupati,” imbuhnya.
Untuk dampak sementara, ratusan kepala keluarga dilaporkan terdampak genangan, kurang lebih ada 32 RT. Sejumlah akses jalan juga sempat terganggu akibat tingginya debit air.
“Perkiraannya antara 200 sampai 500 kepala keluarga terdampak. Beberapa jalan sempat tidak bisa dilalui,” katanya.
Bupati Sam’ani menegaskan, setelah penanganan darurat selesai, Pemkab Kudus akan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat untuk normalisasi sungai serta pembangunan tanggul permanen.
“Karena sungai ini kewenangannya provinsi dan pusat, maka setelah kondisi darurat tertangani, kita akan koordinasi lebih lanjut. Yang terpenting sekarang, masyarakat aman,” pungkasnya.***
