Satpol PP Bongkar Puluhan Warung Esek-esek di Kudus

Nampak petugas membongkar warung Esek-esek yang berada di jalan Boulevard Jati Wetan Kudus dengan menggunakan ekskavator. (ISTIMEWA)

“Di bulan ramadan ini sekaligus sebagai momentum untuk bersama-sama serta bersatu padu untuk mengurangi penyakit masyarakat. Alhamdulillah sudah kita lakukan pembongkaran beberapa lapak atau bangunan liar yang ada di wilayah Desa Jati Wetan,” terangnya.

Dikatakan Fiza berdirinya warung telah tercatat sudah lama. Dari data yang ia punya, warung terlama di tempat tersebut bahkan telah berdiri sejak delapan tahun yang lalu.

Akan terapi keberadaan pemilik warung menurut Fiza didominasi orang dari luar kota. Dari 34 data hanya dia punya, hanya 4 orang yang merupakan warga Desa Jati Wetan. Sedangkan sisanya berasal dari kota Jepara hingga Demak.

Bacaan Lainnya

Selain di manfaatkan sebagai menjajakan makanan, indikasi warung yang beredar tempat tersebut digunakan untuk kegiatan suami-istri. Dibeberkan oleh Fiza hampir sebagain besar bangunan ditempat tersebut memiliki kamar untuk proses prostitusi.

“Dari 34 terindikasi yang digunakan sebagai tempat esek-esek sekitar 24 warung dengan sasaran sopir truk. Keberadaan warung sebagain besar juga digunakan untuk menjual minuman beralkohol. Makanya kami lakukan pembersihan atau pembongkaran,” katanya.

Lahan yang digunakan para pedagang akan dikembalikan sebagaimana mestinya. Lanjut Fiza, para pedagang asli warga Jati wetan juga akan mendapatkan solusi untuk kembali berjualan. Fiza mengatakan telah berkoordinasi dengan pihak desa untuk menyediakan lahan berdagang korban gusuran tersebut.

“Terkait pemilik warung dan warga masyarakat yang masih bekerja di sana akan diberikan jalan keluar. Khususnya bagi warga jati wetan, pemerintah Desa akan menyediakan tanah untuk berjualan,” ujarnya.

Sedangkan salah seorang pemilik warung, Umi (50) mengungkapkan kekesalan terhadap petugas yang menggusur. Ia menilai penggusuran yang dilakukan oleh petugas tidak adil, sebab dirinya hanya berjualan makanan saja.

“Dulu sebelum belum ada bangunan di sini, saya di sini masak nasi dari jam lima pagi sampai jam lima sore tidak punya pelanggan. Setelah warung saya ramai dan banyak warung esek esek semua, kok warungku ikut digusur, ini bagaimana? Warung saya cuma warung nasi asli. Seharusnya saya tidak ikut di bongkar,” katanya sambil meneteskan air mata.