Ia menambahkan, harga telur ayam saat ini tergolong cukup tinggi dan masih berpotensi kembali naik. Pasalnya, perayaan Nataru masih beberapa pekan lagi sehingga permintaan diperkirakan terus meningkat.
“Bisa naik lagi karena ini Nataru terus tak lama setelah itu Ramadan, setelah itu baru dimungkinkan turun,” katanya.
Selain faktor momentum Nataru, tingginya harga telur juga diduga dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Akibatnya, pasokan telur ke pedagang dan masyarakat menjadi lebih terbatas dibandingkan hari biasa.
Dampak dari mahalnya harga telur tersebut dirasakan langsung oleh pedagang. Irma mengaku daya beli masyarakat menurun dan kondisi pasar terlihat sepi. Penjualan telur pun mengalami penurunan, bahkan pasokan satu kuintal per hari tidak selalu habis terjual.
“Penjualan berkurang dari biasanya, malah cenderung turun, soalnya kini satu kuintal per harinya kadang habis kadang tidak,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan pedagang lain, Robihatudh Dhifiroh, yang menyebut harga telur ayam baik grosir maupun eceran ikut naik.
“Untuk harga grosir, telur ayam Rp 30 ribu per kilogram. Sedangkan harga eceran Rp 31 ribu sampai Rp 32 ribu,” terangnya. ***
