Antusiasme peserta terlihat selama sesi diskusi berlangsung. Banyak mahasiswa mengajukan pertanyaan mengenai strategi pengendalian biaya, upaya efisiensi operasional, serta faktor-faktor yang memengaruhi besaran tarif layanan kesehatan.
Menanggapi hal itu, Bonnix menjelaskan bahwa praktik di lapangan sering kali membutuhkan pertimbangan yang lebih luas dibandingkan teori yang dipelajari di ruang kuliah.
“Secara teknis, perhitungan tarif memang ada rumusnya. Namun di lapangan, pertimbangan pasar atau segmentasi konsumen juga menjadi penentu utama tarif tersebut mau dibuat seperti apa. Hal-hal aplikatif seperti inilah yang penting mereka ketahui,” jelasnya.
Ia menambahkan, kegiatan kuliah lapangan menjadi sarana penting untuk memperkenalkan lingkungan kerja rumah sakit kepada mahasiswa sejak dini. Dengan demikian, mereka dapat lebih siap menghadapi tuntutan profesi ketika memasuki dunia kerja.
Bonnix berharap lulusan ARS UMKU nantinya tidak hanya memiliki pemahaman konseptual yang kuat, tetapi juga mampu menerapkan ilmunya secara langsung dalam pengelolaan layanan kesehatan.
“Setelah selesai kuliah, lulusan Administrasi Rumah Sakit UMKU diharapkan bisa mengimplementasikan ilmunya secara operasional,” harapnya.
Selain membahas penerapan akuntansi biaya di rumah sakit, Bonnix juga menyoroti prospek karier lulusan yang memiliki kompetensi di bidang akuntansi. Menurutnya, kebutuhan tenaga akuntansi tidak hanya terdapat di sektor bisnis, tetapi juga di berbagai lembaga publik dan organisasi non-profit.
Ia menjelaskan bahwa pengelolaan keuangan yang baik dibutuhkan oleh berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, keagamaan, olahraga hingga seni.
Karena itu, kemampuan menyusun dan menganalisis laporan keuangan menjadi salah satu kompetensi yang sangat dibutuhkan.
“Tugas akuntansi adalah menyajikan laporan yang hasilnya akan dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan bagi para stakeholder,” pungkasnya.***
