Lebih lanjut, Revita membeberkan bahwa mayoritas murid di SD 5 Hadipolo berasal dari kampung sosial yang berada di Desa Hadipolo RT 6 RW 2. Yang mana, mayoritas dari mereka berprofesi sebagai pengamen hingga pengemis di jalanan.
Menurutnya, kondisi sosial anak juga berpengaruh dengan kemampuan belajarnya. Tidak sedikit dari murid yang masuk di SD 5 Hadipolo belum bisa membaca dengan lancar. Oleh sebab itu, fokus utama pembelajaran di kelas 1 adalah literasi.
“Kesulitannya itu membaca, pengenalan huruf A sampai Z sulit, terus harus mengajari dari nol sampai bisa. Tapi kendalanya anaknya juga jarang masuk sekolah,” bebernya.
Selain kurang disiplin masuk sekolah, Revita juga menyebut bahwa anak-anak juga terkadang telat berangkat ke sekolah. Terkadang pula tidak memakai sepatu hingga belum mandi. Hal ini pun menjadi tantangan sendiri untuk sekolah.
“Ini tugas kami di sekolah tapi kalau di rumah tidak didukung orang tua juga kami kesulitan. Ya target kami, anak bisa membaca dalam satu semester ini agar materi pembelajaran bisa terserap dengan baik,” tukasnya.
Sementara itu, salah satu murid, Sukardi mengaku senang bisa belajar di sekolah, terlebih bisa bertemu dengan teman-teman baru. Ia juga senang dengan kegiatan MPLS karena sang guru mengajaknya bersenang-senang.
“Seneng, tadi nyanyi sama bermain,” ujar singkat. ***
