KUDUS, ZONANEWS.ID – Puluhan mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) menggelar aksi doa bersama dan penyalaan lilin di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Senin malam, 23 Februari 2026.
Aksi ini digelar sebagai bentuk solidaritas atas meninggalnya Arianto Tawakal, siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Maluku, yang diduga menjadi korban kekerasan oknum Brimob.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan salat gaib, dilanjutkan pembacaan tahlil dan doa bersama. Mahasiswa kemudian membentuk lingkaran sambil menyalakan lilin dan meletakkan bunga di tengah lapangan sebagai simbol duka dan perlawanan terhadap kekerasan aparat.
Dalam orasinya, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMK, Nurrohmah Tanaya, menegaskan bahwa peristiwa tersebut harus diproses secara terbuka dan tidak boleh ditutup-tutupi.
“Kasus ini tidak boleh selesai dengan istilah oknum. Harus ada pertanggungjawaban institusi dan evaluasi serius di tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia,” tegas Nurrohmah.
Ia juga meminta agar proses hukum dilakukan secara adil tanpa pandang bulu.
“Kami menuntut transparansi dan keadilan bagi korban serta keluarganya. Negara harus hadir melindungi warganya, bukan sebaliknya,” katanya.
