Refleksi September Hitam, DEMA Fakultas Syariah UIN Sunan Kudus Tolak Rezim militer

Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus menggelar kegiatan Refleksi September Hitam bertajuk “Merawat Ingatan adalah Perlawanan” di depan Fakultas Syariah, pada Kamis, 1/10/2026. (Foto: Istimewa)

KUDUS, ZONANEWS.ID – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus menggelar kegiatan Refleksi September Hitam bertajuk “Merawat Ingatan adalah Perlawanan” di depan Fakultas Syariah, pada Kamis, 1/10/2026.

Mereka membentangkan kain bertuliskan “Rezim Militer” dengan mencoret tulisan militer, “#September Hitam Mimbar Bebas”, “Hidup Rakyat”, dan “Mahasiswa Melawan.”

Refleksi tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa untuk kembali melihat sejumlah peristiwa sejarah dari perspektif kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab sosial.

Bacaan Lainnya

Pelaksanaan kegiatan yang bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila turut menjadi konteks bagi peserta untuk merefleksikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Ketua DEMA Fakultas Syariah sekaligus Koordinator kegiatan, Dzuizzi Syarof, mengawali rangkaian acara melalui prolog yang mengantarkan peserta pada makna September Hitam.

Prolog tersebut kemudian dilanjutkan dengan penampilan puisi dan teatrikal yang menjadi media ekspresi mahasiswa dalam menyampaikan pesan tentang sejarah dan persoalan kemanusiaan.

Nuansa reflektif semakin terasa ketika kegiatan memasuki sesi Mimbar Bebas atau Orasi. Ketua Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) Fakultas Syariah bersama mahasiswa umum diberikan kesempatan menyampaikan pandangan dan gagasan terkait berbagai persoalan sosial secara terbuka.

Dzuizzi Syarof menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak berhenti pada aktivitas mengenang peristiwa masa lalu. Menurutnya, ingatan sejarah perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses belajar agar mahasiswa memiliki kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan dan keadilan.

“Merawat ingatan bukan sekadar mengingat masa lalu. Ingatan harus menjadi bagian dari pembelajaran agar mahasiswa mampu melihat persoalan kemanusiaan dan keadilan secara kritis serta bertanggung jawab,” ujar Dzuizzi.