Dari total 527 stan dengan sekitar 400 pedagang terdaftar, penerapan QRIS menjadi fokus utama penyelenggaraan tahun ini guna meningkatkan efisiensi transaksi dan pencatatan keuangan pelaku usaha.
“Isu jual-beli data itu tidak berdasar. Tujuan kami dan BRI adalah digitalisasi sesuai referensi pemerintah. Kami ingin UMKM Kudus naik kelas. Prosesnya tidak instan; setelah pendaftaran, ada validasi 1×24 jam hingga 2×24 jam untuk mendapatkan approval langsung dari Bank Indonesia (BI),” ungkap Anjas.
Ia menegaskan bahwa seluruh proses mengikuti regulasi resmi dan pengawasan otoritas.
Anjas juga meluruskan temuan di lapangan mengenai rekening yang dianggap “tiba-tiba muncul”. Ia menjelaskan bahwa rekening tersebut tidak langsung aktif secara otomatis, melainkan harus melalui aktivasi mandiri oleh pedagang melalui aplikasi BRImo.
Tim inventarisasi dari panitia dan BRI turut melakukan pendampingan agar tidak terjadi kesalahpahaman serta memastikan seluruh tahapan dipahami oleh pedagang.
“Hingga hari ini, distribusi perangkat QRIS kepada para pedagang telah mulai berjalan. Tercatat sebanyak 216 data dalam proses distribusi, dengan 18 di antaranya diserahkan pada hari ini,” tuturnyq.
Seluruh pedagang, baik lokal maupun luar kota, mendapatkan fasilitas dan pendampingan digitalisasi yang sama sebagai bagian dari komitmen bersama mendukung gerakan transaksi non-tunai. ***
