Selain pembinaan di Kudus, jaringan ASTI juga terus berkembang di sejumlah daerah. Saat ini terdapat sekitar 10 kota yang menjadi bagian dari jaringan pembinaan ASTI. Delapan kota telah memiliki badan hukum, sedangkan dua kota lainnya masih dalam tahap pengembangan.
Total peserta didik dari berbagai wilayah tersebut mencapai sekitar 500 anak.
Pembentukan karakter juga menjadi bagian penting dalam sistem pembinaan ASTI. Salah satu metode yang diterapkan adalah sistem boarding atau asrama.
Dengan sistem tersebut, kegiatan pemain dapat disusun secara lebih terprogram, mulai dari bangun tidur hingga waktu istirahat.
“Kalau boarding itu lebih terprogram dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Terutama memang pembentukan karakternya lebih mudah,” ujar Arif.
Dari sisi prestasi, tim-tim ASTI juga telah mengikuti berbagai kompetisi di tingkat nasional maupun internasional. Pada turnamen di Thailand, tim U-10 dan U-12 berhasil menjadi juara kedua, sementara tim U-18 menempati posisi ketiga.
ASTI juga mencatatkan prestasi di turnamen Batam serta meraih peringkat ketiga dalam Sangju Cup di Korea Selatan.
Dalam proses pembinaan, ASTI menggabungkan pembelajaran teori dengan praktik. Pemain diajak melakukan analisis terhadap pertandingan untuk menemukan kekurangan yang perlu diperbaiki. Hasil evaluasi tersebut kemudian diterapkan dalam latihan melalui pengulangan.
“Kalau teori itu misalnya analisis pertandingan kemarin, nanti dianalisis kekurangannya apa. Tapi metode di latihan kita intinya adalah pengulangan,” terang Arif.
Sementara itu, Ketua KONI Kabupaten Kudus, Sulistiyanto, mengapresiasi upaya ASTI dalam membangun talenta muda. Menurutnya, pembinaan atlet tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga mental, karakter, kedisiplinan, dan semangat.
“Pembinaan atlet tidak hanya soal bagaimana mereka berprestasi di lapangan. Yang tidak kalah penting adalah membangun karakter, mental, dan semangat mereka agar memiliki kesiapan menghadapi setiap proses dan tantangan,” katanya.
Dengan memasuki tahun kedelapan, ASTI Kudus berharap semakin banyak pemain binaannya mampu melanjutkan perjalanan menuju akademi elite klub profesional.
Pembinaan yang dilakukan sejak usia muda diharapkan menjadi fondasi bagi lahirnya talenta-talenta baru yang mampu bersaing di level sepak bola nasional.
Melalui semangat “Do the Best, Be the Best”, para pemain juga didorong untuk tidak sekadar memiliki mimpi, tetapi berani menjalani proses dan mengambil langkah nyata untuk mewujudkannya.***
