KUDUS, ZONANEWS.ID – Akademi Sarana Talenta Indonesia (ASTI) Kudus terus memperkuat pembinaan pemain muda setelah memasuki usia ke-8 tahun.
Tak hanya mengasah kemampuan teknis, akademi tersebut menargetkan para pemain binaannya mampu melanjutkan karier ke akademi elite klub profesional nasional.
Semangat tersebut kembali ditekankan dalam kegiatan Motive Action Class yang digelar di Ballroom @HOM Hotel Kudus.
Sekitar 200 peserta didik ASTI dari kelompok usia 12 hingga 17 tahun mengikuti kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian anniversary ke-8 ASTI Kudus.
CEO ASTI Kudus, Arif Budianto, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk membangun motivasi sekaligus mendorong pemain berani mengambil tindakan nyata dalam mengejar cita-cita.
Menurutnya, istilah Motive Action dipilih karena kegiatan tersebut tidak berhenti pada pemberian motivasi. Para pemain justru diajak memahami alasan mereka menekuni sepak bola sehingga memiliki dorongan untuk terus bergerak dan menjalani proses pembinaan.
“Motive Action itu bukan motivasi. Bagaimana mereka menemukan alasan untuk bergerak,” ujar Arif, Rabu, 26 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut diikuti siswa baru dan siswa lama. Selain menjadi bagian dari pengenalan pola pembinaan bagi pemain baru, kegiatan ini menjadi momentum bagi pemain lama untuk kembali mengingat tujuan serta mimpi yang ingin dicapai.
Memasuki usia kedelapan, ASTI juga mengusung jargon “Do the Best, Be the Best”. Semangat tersebut diharapkan menjadi pegangan bagi para pemain muda dalam menjalani proses latihan maupun menghadapi berbagai kompetisi.
Arif menegaskan, salah satu tujuan utama pembinaan ASTI adalah membuka peluang bagi pemain berbakat untuk melanjutkan pendidikan sepak bola ke jenjang yang lebih tinggi.
“Target kita adalah bagaimana anak didik kita banyak ke klub atau elite pro academy di Liga 1 maupun Liga 2,” jelasnya.
Menurut Arif, ASTI tidak menempatkan diri sebagai klub yang langsung mencetak pemain profesional.
Rentang usia peserta didik yang mayoritas masih berada di tingkat sekolah menengah pertama (SMP) hingga sekolah menengah atas (SMA) membuat proses pembinaan lebih diarahkan untuk membangun fondasi sebelum pemain disalurkan ke akademi klub profesional.
“Kita belum menciptakan pemain profesional, karena kita masih di usia SMP-SMA. Nanti kita menyalurkan ke tim akademi Liga 1 yang profesional,” katanya.
Sejumlah pemain binaan ASTI telah mendapatkan kesempatan melanjutkan pembinaan di klub nasional. Beberapa di antaranya tercatat bergabung dengan Borneo FC dan Persita di level Liga 1.
