Dari Topo Ngeli hingga Pager Mangkok, Jejak Dakwah Sunan Muria Terus Hidup Sampai Lintas Generasi

Kawasan Masjid dan Makam Sunan Muria di Kabupaten Kudus. (Foto: Siti Islamiyah/Zonanews.id)

Di tempat itulah Sunan Muria wafat dan dimakamkan, sehingga namanya lekat dengan kawasan Muria. Karena masjidnya berada di puncak gunung, beliau kemudian dikenal luas sebagai Sunan Muria, merujuk pada lokasi dakwah dan tempat peristirahatan terakhirnya.

Pendekatan dakwah Sunan Muria dikenal sangat adaptif terhadap budaya lokal. Salah satu ajaran populernya adalah “Topo Ngeli”, yakni sikap menghanyutkan diri dalam kehidupan masyarakat.

“Ia tidak serta-merta menghapus tradisi yang telah ada, melainkan masuk, membaur, lalu mengisinya dengan nilai-nilai Islam sehingga ajaran dapat diterima tanpa gejolak,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Ajaran lain yang masih hidup di masyarakat adalah “Pager Mangkok”, yakni anjuran memperbanyak sedekah kepada tetangga.

Selain itu, sejumlah petuahnya juga menyentuh aspek kesehatan dan kelestarian alam, seperti anjuran konsumsi buah parijoto bagi ibu hamil, pemanfaatan daun kelor dan daun mengkudu, hingga larangan menanam padi gogo di lereng Muria.

Meski banyak tradisi berkembang, Mastur menegaskan bahwa inti dakwah Sunan Muria tetap berakar pada penguatan tauhid dan fiqih, disampaikan dengan cara yang lembut melalui pendekatan budaya, sosial, dan keteladanan hidup sederhana. ***