“Kalau banjir, anak sekolah dan buruh pabrik susah lewat. Kadang harus mutar jauh. Makanya warga sepakat uruk jalan supaya tetap bisa dipakai meski air datang,” katanya.
Pengurukan dilakukan dengan ketebalan berbeda-beda mengikuti kontur jalan. Di beberapa titik, ketinggian urukan mencapai sekitar 80 sentimeter, sementara di bagian lain sekitar 50 sentimeter dengan lebar jalan 5 hingga 6 meter.
Ia menambahkan, total biaya yang dibutuhkan diperkirakan mencapai sekitar Rp150 juta. Proses pengerjaan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan warga dari 10 RT di RW 2.
Selain mengganggu akses jalan, banjir juga berdampak pada lahan pertanian di sekitar lokasi. Pada musim sebelumnya, sejumlah sawah warga mengalami gagal panen.
Setelah pengurukan rampung, warga berencana mengajukan permohonan kepada pemerintah desa agar jalan tersebut bisa mendapatkan penanganan permanen berupa pengaspalan.
“Nanti akan kami laporkan ke Pak Lurah supaya bisa diusulkan untuk diaspal. Harapan kami, ke depan tidak perlu uruk jalan terus tiap musim hujan,” tambahnya.***
