Pihaknya menyebut bahwa saat ini, sudah ada sekira 357 guru penggerak di Kabupaten Kudus. Guru penggerak ini akan menjadi investasi bagi dunia pendidikan, sekaligus untuk memaksimalkan seleksi kekosongan kepala sekolah.
“Tapi untuk menduduki kepala sekolah, kita harus selektif dan menaati peraturan yang ditetapkan pemerintah,” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator CGP Kabupaten Kudus Angkatan 9, Zainudin menambahkan bahwa ada sebanyak 21 stand yang dipamerkan pada kali. Setiap stand, terdiri dari 5-7 CGP dari berbagai jenjang sekolah yang ada di Kudus.
Sebelum menampilkan Panen Hasil Belajar ini, para CGP akan melakukan pendidikan selama enam bulan atau sejak November 2023 kemarin. Lokakarya ini menjadi tahapan terakhir dan kegiatan pendidikan program guru penggerak.
“Semoga bisa menginspirasi guru yang belum ada guru penggeraknya, bisa menjadi motivasi guru lain,” ujar Zainudin, yang juga Kepala SD Negeri 3 Ploso tersebut. ***
