“Karena kelamaan di rumah jadinya pada sekolah juga sedikit malas. Apalagi yang anak-anak sini itu juga setelah sekolah langsung disuruh bekerja, ada yang mengamen, jual rujak, ada yang minta-minta juga,” bebernya.
Selain minim murid, lanjut Hadi, sekolah setempat juga mengalami kekurangan tenaga pendidik. Saat ini hanya ada enam tenaga pendidik yang mengajar, meliputi dua guru PPPK penuh waktu, tiga guru PPP paruh waktu dan satu guru GTT.
“Jadi memang ada yang rapel mengajarnya,” tandasnya.
Lebih lanjut, Hadi juga mengatakan bahwa ada sejumlah kendala ketika melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar (KBM) dengan murid dari kampung sosial. Orang tua menghendaki untuk mengusaikan pembelajaran pukul 12.00 WIB.
Ia menyebut, apabila murid tersebut pulang terlambat maka orang tua akan marah. Sebab, anak-anak tersebut akan dijemput oleh angkutan khusus yang mengantar mereka ke tempat bekerja, untuk mengamen hingga berjualan di jalanan.
“Jadi kadang ada yang sampai mengantuk di kelas ya kalau ditanya itu karena capek habis jualan atau kerja ngamen di jalan,” tukasnya.
Hingga saat ini, belum ada solusi konkret yang diberikan oleh dinas terkait maupun pihak desa terkait kondisi sekolah maupun murid. Ia pun berharap agar ada solusi yang baik agar anak mendapat kesempatan belajar yang nyaman. ***
