Semur Kutuk Legendaris Kudus Bertahan Sejak 1960-an, Warisan Rasa yang Tak Lekang Waktu

Syafa'ah, pedagang semur kutuk di Desa Hadipolo, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. (Foto: Siti Islamiyah/Zonanews.id)

KUDUS, ZONANEWS.ID – Di tengah menjamurnya berbagai kuliner kekinian, Warung Semur Kutuk Lek Safa’ah di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, masih mampu mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu kuliner tradisional yang melegenda.

Resep warisan keluarga yang terus dijaga menjadi kunci bertahannya warung tersebut selama lebih dari enam dekade.

Warung yang berada di Jalan Raya Kudus–Pati KM 19 itu dikenal luas berkat menu semur ikan kutuk atau ikan gabus yang menjadi andalan.

Bacaan Lainnya

Cita rasa khas yang tetap terjaga membuat pelanggan dari berbagai daerah masih berdatangan untuk menikmati sajian tersebut.

Pemilik warung, Safa’ah (68), mengatakan usaha kuliner tersebut telah dirintis oleh keluarganya sejak sekitar tahun 1960-an. Ia kemudian melanjutkan usaha tersebut dengan tetap mempertahankan resep yang diwariskan secara turun-temurun.

“Warung ini sudah ada sejak tahun 60-an. Yang merintis generasi pertama. Waktu itu saya masih kecil, jadi tidak begitu tahu persis bagaimana awal mulanya,” ujar Safa’ah.

Menurutnya, selama puluhan tahun beroperasi, warung sempat beberapa kali berpindah lokasi. Namun, menu semur kutuk tetap menjadi identitas utama yang tidak pernah berubah sejak awal berdiri.

Keunikan semur kutuk racikan Lek Safa’ah terletak pada proses pengolahannya yang berbeda dari semur pada umumnya. Ikan kutuk terlebih dahulu digoreng hingga matang sebelum dimasak kembali ke dalam kuah semur berbumbu khas.

“Ikan kutuknya digoreng dulu, baru dimasak semur. Dari dulu memang resepnya seperti itu,” katanya.