Sang Dalang Terakhir : Perjuangan Melestarikan Wayang Klithik Wonosoco di Tengah Arus Zaman

Dalang Ki Sutikno, Generasi kedelapan dalang Wayang Klithik di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. (Foto: Istimewa/Zonanews.id)

KUDUS, ZONANEWS.ID – Keheningan menyelimuti perjalanan Wayang Klithik Wonosoco, seni pedalangan kayu yang telah mengakar bertahun-tahun dalam kehidupan masyarakat Desa Wonosoco, Kabupaten Kudus.

Di tengah perubahan sosial yang kian cepat, tradisi ini kini hanya ditopang satu dalang aktif, Ki Sutikno, generasi kedelapan yang masih setia menjaga napas Wayang Klithik.

Kondisi tersebut menjadi alarm bagi pegiat budaya. Melalui program Sang Dalang Terakhir, upaya penyelamatan Wayang Klithik mulai digerakkan dengan pendekatan dokumentasi film, pementasan terbuka, hingga kegiatan edukatif yang menyasar generasi muda.

Bacaan Lainnya

Penggagas program, Bustomy Rifa Aljauhari, menilai Wayang Klithik tidak bisa dilepaskan dari konteks kehidupan masyarakat Wonosoco.

“Wayang Klithik bukan benda mati. Ia tumbuh dari ritual, dari cara masyarakat menjaga hubungan dengan alam dan leluhur,” ujarnya. Jumat, 9 Januari 2026.

Menurut Bustomy, Wayang Klithik Wonosoco memiliki kekhasan karena lahir dari babad tanah Jawa, bukan dari kisah epos India.

“Lakon-lakonnya berbicara tentang sejarah lokal, konflik kekuasaan, dan nilai moral yang masih relevan hingga sekarang,” katanya.

Program Sang Dalang Terakhir mendapat dukungan Dana Indonesiana melalui LPDP, sebagai bentuk kehadiran negara dalam melindungi tradisi yang terancam putus regenerasi.

Dukungan ini menjadi energi baru agar Wayang Klithik tidak berhenti sebagai arsip, tetapi tetap hidup di tengah masyarakat.

Puncak kegiatan direncanakan pada 10 Januari 2026 melalui pementasan Wayang Klithik Wonosoco di Wates, Desa Wonosoco.

Baca :  Angkat Tema Atma Abhinaya, Karnaval Budaya Hari Jadi Kudus ke-476 Ditutup dengan Atraksi 50 Barongan