KUDUS, ZONANEWS.ID — Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro kembali melahirkan doktor baru. Fatkhiyatus Sa’adah berhasil menyandang gelar doktor program studi Ilmu Lingkungan (PSDIL) di usianya yang baru 28 tahun.
Fatkhiya berhasil menyelesaikan disertasinya yang berjudul “Pharmaceutical Wastewater Treatment Using Bismuth Oxide-Based Photocatalytic Method” dalam sidang promosi doktor yang digelar pada Rabu, 30 Juli 2025.
Fatkhiya merupakan mahasiswa asal Kudus sekaligus penerima beasiswa PMDSU (Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul) dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).
Ia berhasil menyelesaikan studi doktoralnya dengan prestasi luar biasa. IPK sempurna 4.00, predikat cumlaude, dan masa studi yang sangat singkat, yakni 2 tahun 5 bulan 28 hari.
Sebagai seorang doktor muda, yang telah berkeluarga dan memiliki satu orang anak, Fatkhiya menjadi inspirasi bahwa pendidikan tinggi dan kehidupan keluarga dapat berjalan beriringan dengan penuh semangat dan komitmen.
Selama masa studinya, Fatkhiya menunjukkan kiprah luar biasa dalam bidang riset dan akademik. Fatkhiya menyebut bahwa dirinya menghasilkan 8 publikasi internasional terindeks Scopus, termasuk di jurnal bereputasi tinggi Q1,
“2 paten sederhana atas inovasi dalam bidang teknologi pengolahan limbah. Presentasi di berbagai konferensi internasional,” ujar Fatkhiya.
Serta, pada tahun 2024, Fatkhiya mendapat kesempatan mengikuti program kolaborasi riset internasional di National Taiwan University of Science and Technology yang memperluas jejaring ilmiah dan kualitas risetnya di kancah global.
“Disertasi saya mengangkat pengembangan teknologi ramah lingkungan berbasis fotokatalis bismut oksida untuk mendegradasi limbah farmasi, khususnya antibiotik,” imbuhnya.
Teknologi ini terbukti mampu menurunkan kandungan antibiotik dalam air limbah secara efektif serta menghasilkan produk yang aman bagi lingkungan, berdasarkan hasil uji toksisitas dan uji aktivitas antibakteri.
“Teknologi ini juga bersifat berkelanjutan, karena menggunakan material lapisan tipis (thin film) yang bisa digunakan berulang kali,” tambahnya.
Fakhiya berharap hasil penelitiannya dapat menjadi kontribusi nyata bagi pengembangan teknologi pengolahan limbah farmasi di Indonesia.
Ia juga mendorong generasi muda, terutama perempuan, untuk tidak ragu melangkah lebih jauh di dunia akademik dan riset demi mewujudkan masa depan lingkungan yang lebih baik. ***
