Cara pandang UMKU inilah yang diharapkan Mbak Reri bisa dicontoh kampus lainnya yang ada di Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Kudus.
Bagimana kampus memperispakan anak didiknya menjadi sosok “paripurna”, bisa turun ke masyarakat dan bisa memberdayakan diri sendiri tanpa harus menjadi seorang pegawai kantoran.
“Itu yang menjadi kewajiban dari kampus dan saya lihat UMKU dengan langkah-langkah yang dilakukan sudah mulai mengantarkan mahasiswanya untuk memahami konsep-konsep dan pola tersebut,” jelasnya.
Sementara itu, Rektor UMKU, Dr. Edy Soesanto mengungkapkan bahwa UMKU sudah sejak lama mempunyai komitmen untuk melakukan ekonomi sirkular, tentang bagaimana membantu program pemerintah dalam gerakan Go Green.
UMKU memulainya dengan membuat ruang kelas dengan memanfaatkan kontainer bekas.
Kemudian di tahun 2025 saat UMKU menerima hibah Resona Saintek dengan tema utama memanfaatkan barang bekas menjadi barang yang bermanfaat dan bernilai ekonomi, UMKU memperkenalkan produk-produk penelitian para dosennya.
“Kali ini yang dipamerkan ada limbah dari plastik yang dibuat tas, kemudian ada juga kulit parijoto yang ternyata bermanfaat untuk kesehatan karena kandungan antioksidannya cukup tinggi,” ungkap Rektor.
“Kemudian ada juga jangklong (umbi khas Lereng Gunung Muria) memiliki antioksidan tinggi, dan daun pletekan bisa digunakan untuk obat luka bakar,” jelasnya.
Dengan hasil penelitian para dosen ini, ke depan UMKU berencana mengembangkan menjadi sebuah produk. Total ada sekitar 20 produk hasil penelitian dosen, yang diharapkan bisa diproduksi massal ketika sudah dipastikan aman setelah melewati tahapan pengujian.***
