Retno Aisah Maharani, seorang mahasiswi Universitas Muria Kudus (UMK) yang hadir dalam acara tersebut, mengungkapkan kekagumannya terhadap tradisi mitoni yang diselenggarakan dengan sangat apik.
“Wah, keren dan sangat berbudaya Jawa sekali, Mas. Kesakralan dan kearifan lokalnya sangat terasa. Saya baru pertama kali menyaksikan prosesi ini dan benar-benar terkesan,” ujarnya.
Pengadaan acara ini tidak hanya menjadi perayaan keluarga, tetapi juga sebuah usaha pelestarian budaya lokal.
Penyelenggaraannya dipimpin oleh Pengantin Production, yang dikelola oleh Ibu Dani Mukti dari Yogyakarta, berkolaborasi dengan Max Production Kudus.
Setiap prosesi berlangsung dengan penuh kehikmatan, termasuk momen sungkeman yang menjadi simbol permohonan restu dan doa dari orang tua kepada calon ibu menjelang persalinan.
Kamal Mustofa, tuan rumah acara tersebut, menegaskan bahwa penyelenggaraan tradisi mitoni ini bukan hanya sekadar perayaan keluarga, tetapi juga sebagai bentuk nyata dari kepedulian terhadap kelestarian budaya lokal.
“Kami ingin menjaga tradisi ini agar tidak punah. Sayang sekali jika generasi mendatang tidak mengenal budaya sendiri. Dengan mengadakan acara seperti ini, kami berharap nilai-nilai luhur dari leluhur tetap diwariskan,” ujarnya.
Acara Wilujengan Mitoni ini menjadi bukti bahwa tradisi Jawa masih memiliki tempat di hati masyarakat meski zaman terus berubah.
Harapan terbesar dari acara ini adalah agar semakin banyak generasi muda yang tergerak untuk mengenal dan melestarikan adat istiadat yang sarat dengan nilai-nilai luhur tersebut, sehingga budaya Jawa tetap lestari dan dikenal oleh generasi mendatang. ***
