KUDUS, ZONANEWS.ID – Program Mutiara Desa yang digagas Jaringan Perempuan Kudus (JPK) didorong menjadi wadah penguatan peran perempuan sekaligus sarana edukasi keuangan bagi masyarakat.
Melalui kegiatan berbasis komunitas, program ini diharapkan mampu memberikan manfaat yang lebih luas, tidak hanya dalam bidang keagamaan dan sosial, tetapi juga pemberdayaan keluarga serta penguatan kemandirian ekonomi masyarakat.
Program Mutiara Desa dikembangkan melalui kolaborasi Jaringan Perempuan Kudus dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat desa melalui ruang-ruang pertemuan yang selama ini telah dekat dengan kehidupan warga, salah satunya majelis taklim.
Majelis taklim dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi sarana membangun komunikasi dan kebersamaan di tengah masyarakat. Selain memperdalam pengetahuan keagamaan, kegiatan tersebut juga dapat dikembangkan sebagai ruang berbagi pengetahuan mengenai keluarga, pendidikan, kesehatan, kegiatan sosial hingga pengelolaan ekonomi rumah tangga.
Ketua Jaringan Perempuan Kudus, Dewi Nafisa Prabawati, berharap Mutiara Desa dapat berkembang menjadi gerakan masyarakat yang memberikan dampak nyata.
“Saya berharap Mutiara Desa tidak berhenti pada kegiatan pengajian, tetapi berkembang menjadi gerakan masyarakat yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar,” ujarnya, Senin, 31 Agustus 2026.
Menurut Dewi, kegiatan yang dilakukan melalui Mutiara Desa dapat menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk saling belajar dan meningkatkan kapasitas.
“Majelis taklim sudah menjadi bagian yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, kami ingin kegiatan ini juga bisa menjadi ruang untuk belajar tentang keluarga, sosial, pemberdayaan perempuan dan peningkatan kesejahteraan,” katanya.
Dewi menilai perempuan memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan keluarga. Oleh sebab itu, peningkatan pengetahuan dan keterampilan perempuan perlu terus didorong, termasuk dalam kemampuan mengelola keuangan.
“Perempuan memiliki peran besar dalam kehidupan keluarga. Ketika perempuan semakin memiliki pengetahuan dan keterampilan, terutama dalam mengelola keuangan, maka ketahanan keluarga juga bisa semakin kuat,” jelasnya.
Literasi keuangan menjadi salah satu aspek yang dinilai penting untuk diperkenalkan kepada masyarakat. Pemahaman mengenai keuangan tidak hanya berkaitan dengan besarnya pendapatan, tetapi juga kemampuan dalam mengatur pengeluaran, menentukan kebutuhan, menabung, serta memahami risiko dari berbagai layanan dan produk keuangan.
“Literasi keuangan bukan hanya soal berapa besar penghasilan seseorang. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu mengelola apa yang dimiliki secara bijak dan sesuai dengan kebutuhan,” kata Dewi.
Melalui edukasi yang sederhana dan mudah dipahami, masyarakat diharapkan mampu membangun kebiasaan mengelola keuangan secara lebih terencana.
Pencatatan pemasukan dan pengeluaran, penyusunan anggaran keluarga, serta membiasakan menabung dapat menjadi langkah awal yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kebiasaan itu bisa dimulai dari hal sederhana. Misalnya mencatat pemasukan dan pengeluaran, menentukan kebutuhan yang menjadi prioritas, kemudian menyisihkan sebagian uang untuk ditabung,” ujarnya.
