Mutiara Desa Jadi Wadah Penguatan Perempuan dan Edukasi Keuangan di Tingkat Masyarakat

Jaringan Perempuan Kudus (JPK) launching Duta Literasi Keuangan JPK sekaligus Program Mutiara Desa di Pendapa Kabupaten Kudus. (Foto: Ayu Devi/Zonanews.Id)

Bagi perempuan yang menjalankan usaha, pemahaman mengenai pencatatan keuangan juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha.

Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) perlu mengetahui perbedaan antara modal, biaya operasional, omzet dan keuntungan, termasuk membiasakan memisahkan keuangan usaha dengan kebutuhan pribadi.

“Jangan sampai uang usaha bercampur dengan uang kebutuhan pribadi. Pelaku usaha harus mengetahui berapa modal yang digunakan, berapa biaya yang dikeluarkan dan berapa keuntungan yang benar-benar diperoleh,” tutur Dewi.

Bacaan Lainnya

Selain itu, masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk penipuan serta tawaran layanan keuangan yang tidak jelas.

Edukasi mengenai keamanan transaksi digital menjadi salah satu materi yang dapat dikembangkan melalui kegiatan Mutiara Desa.

“Sekarang masyarakat juga harus semakin berhati-hati. Jangan mudah percaya pada tawaran yang menjanjikan keuntungan besar tanpa memahami dengan jelas risiko dan legalitasnya,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, Mutiara Desa diharapkan dapat bersinergi dengan Duta Literasi Keuangan untuk memperluas jangkauan edukasi.

Majelis taklim dan komunitas masyarakat dapat menjadi pintu masuk untuk menyampaikan materi secara langsung, sementara Duta Literasi Keuangan dapat memberikan pendampingan praktis sesuai kebutuhan warga.

“Kami ingin edukasi ini benar-benar dekat dengan kebutuhan masyarakat. Tidak hanya teori, tetapi bagaimana pengetahuan itu bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Dewi.

Kegiatan tersebut dapat dikembangkan dalam bentuk kelas pengelolaan keuangan keluarga, pelatihan pencatatan sederhana bagi pelaku usaha perempuan, diskusi mengenai kebiasaan menabung, hingga edukasi tentang keamanan dalam bertransaksi secara digital.

Pembentukan kelompok belajar di tingkat desa juga dapat menjadi langkah untuk menjaga keberlanjutan program. Dengan adanya komunitas yang aktif, masyarakat diharapkan dapat saling berbagi pengalaman dan meningkatkan kemampuan dalam mengelola keuangan.

“Harapan kami, setelah mendapatkan edukasi, masyarakat tidak berhenti belajar. Akan lebih baik jika kemudian terbentuk kelompok-kelompok yang bisa saling berbagi pengalaman dan saling menguatkan,” jelasnya.

Melalui Program Mutiara Desa, Jaringan Perempuan Kudus berharap kegiatan masyarakat dapat berkembang menjadi ruang pemberdayaan yang lebih luas. Penguatan nilai keagamaan, kepedulian sosial, pendidikan keluarga dan literasi keuangan diharapkan dapat berjalan beriringan.

“Mutiara Desa kami harapkan menjadi ruang bersama yang memberikan manfaat nyata. Tidak hanya memperkuat nilai keagamaan, tetapi juga memperkuat perempuan, keluarga, kepedulian sosial dan kemandirian ekonomi masyarakat,” pungkas Dewi.***