LKKNU Kudus Ungkap Tantangan Program Perjodohan, dari Pekerjaan hingga Status Karier

Sekretaris LKKNU Kudus, Mohammad Solikul Huda. (Foto: Ayu Devi/Zonanews.Id)

KUDUS, ZONANEWS.ID – Program Golek Garwo Sah (Gegash) yang digagas Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kabupaten Kudus terus membantu masyarakat yang ingin mencari pasangan hidup secara serius melalui proses ta’aruf.

Namun, di balik sejumlah kisah sukses yang berujung pada pernikahan, LKKNU mengungkap masih banyak tantangan yang dihadapi peserta, terutama terkait pekerjaan, status karier, hingga domisili.

Bacaan Lainnya

Sekretaris LKKNU Kudus, Mohammad Solikul Huda, mengatakan persoalan tersebut menjadi catatan penting dalam evaluasi program yang diluncurkan pada 14 Juni 2026 lalu.

Menurutnya, mayoritas peserta perempuan yang mengikuti Gegash merupakan wanita karier dengan pendidikan tinggi dan pekerjaan yang sudah mapan.

Kondisi itu berbanding terbalik dengan sebagian besar peserta laki-laki yang memiliki latar belakang profesi lebih beragam.

“Kebanyakan peserta perempuan itu sudah mapan dan menjadi wanita karier. Sementara peserta laki-laki ada yang guru madrasah, pengasuh pondok pesantren, karyawan swasta, bahkan ada yang bekerja sebagai ojek online. Ketika dipertemukan, sering kali muncul pertimbangan soal pekerjaan sehingga belum tentu langsung cocok,” kata Solikul Huda, Sabtu, 1 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, perbedaan profesi maupun tingkat penghasilan kerap menjadi pertimbangan peserta dalam menentukan pasangan hidup. Meski demikian, menurutnya kecocokan hati tetap menjadi faktor yang paling menentukan.

“Kalau memang hatinya sudah sreg, pasti ada jalannya. Kami sudah melihat sendiri ada peserta dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda, tetapi akhirnya bisa berjodoh karena sama-sama memiliki niat yang baik untuk menikah,” ujarnya.

Huda menuturkan, hingga saat ini beberapa peserta telah melangsungkan pernikahan, sementara pasangan lainnya tengah mempersiapkan proses lamaran.

Salah satu kisah yang menarik perhatian adalah peserta yang berprofesi sebagai anggota Banser sekaligus karyawan yang akhirnya dipertemukan dengan seorang hafizhah.

“Awalnya mereka saling menunggu proses yang kami dampingi. Ternyata akhirnya cocok dan dalam waktu dekat rencananya akan melangsungkan lamaran. Ini membuktikan bahwa perbedaan profesi bukan penghalang jika ada keseriusan,” ungkapnya.