LKKNU Kudus Ungkap Tantangan Program Perjodohan, dari Pekerjaan hingga Status Karier

Sekretaris LKKNU Kudus, Mohammad Solikul Huda. (Foto: Ayu Devi/Zonanews.Id)

Selain pekerjaan, lokasi tempat tinggal maupun tempat bekerja juga menjadi tantangan tersendiri. Beberapa peserta perempuan berstatus aparatur sipil negara (ASN) atau dosen yang tidak memungkinkan berpindah tempat tugas apabila menikah.

“Ada peserta yang menjadi dosen dan ASN di luar daerah. Ketika sudah saling suka, persoalannya bukan lagi soal perasaan, tetapi siapa yang harus mengikuti lokasi kerja pasangannya. Hal seperti ini harus dikomunikasikan sejak awal,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi berbagai persoalan tersebut, LKKNU menerapkan sistem pendampingan selama proses ta’aruf.

Bacaan Lainnya

Menurut Huda, pendamping memiliki peran penting dalam menjembatani komunikasi agar proses perkenalan berlangsung sesuai adab dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

“Kami tidak memberikan nomor telepon peserta begitu saja. Semua komunikasi difasilitasi oleh pembimbing. Kalau ingin bertemu pun harus melalui pendamping supaya prosesnya berjalan baik dan sesuai aturan,” tegasnya.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat seluruh pembimbing akan dikumpulkan untuk mengevaluasi berbagai dinamika yang terjadi selama program berlangsung.

Peserta juga akan mendapatkan pembekalan lanjutan mengenai literasi keuangan keluarga sebagai bekal sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.

“Kami ingin program ini tidak hanya mempertemukan jodoh, tetapi juga mempersiapkan peserta membangun keluarga yang sakinah. Karena itu, setelah materi keluarga sakinah, pranikah, dan kesehatan keluarga, berikutnya kami akan memberikan pembekalan tentang pengelolaan keuangan keluarga,” katanya.

Huda menegaskan, LKKNU Kudus akan terus menyempurnakan pelaksanaan Gegash agar semakin banyak peserta yang berhasil menemukan pasangan hidup.

Menurutnya, tujuan utama program tersebut bukan sekadar mempertemukan dua orang, melainkan membangun keluarga yang harmonis dan berkelanjutan.

“Perjodohan itu tidak bisa dipaksakan. Yang terpenting adalah keseriusan, kecocokan, dan kesiapan membangun rumah tangga. Kalau niatnya baik, insya Allah akan ada jalannya,” pungkasnya.***