Malang, ZONANEWS.ID — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) menginisiasi gerakan konservasi partisipatif bersama masyarakat Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Dalam sebuah kegiatan sosialisasi yang digelar di Balai Dusun Tumpangrejo, Senin 28 Juli 2025.
Mereka mengajak warga untuk memahami pentingnya pencegahan erosi serta melakukan pemetaan lahan secara kolaboratif di kawasan KHDTK Diklat UB Resort Buntoro.
Sebanyak 20 warga mengikuti kegiatan ini, sebagian besar merupakan petani penggarap di lereng-lereng curam yang rentan terhadap erosi. Minimnya pengetahuan tentang konservasi tanah membuat banyak lahan mengalami degradasi dan penurunan hasil panen dari waktu ke waktu.
Mashlahatul Umami, S.Hut., M.For.Ecosys.Sc., dosen pembimbing KKN, menjelaskan bahwa erosi yang terjadi secara terus-menerus dapat menggerus lapisan tanah subur dan mempercepat kerusakan lahan.
“Kalau tanahnya terus terkikis, lama-lama habis juga kesuburannya. Ini bisa menyebabkan lahan sulit ditanami kembali,” jelasnya dalam paparan di depan warga.
Dalam sesi tanya jawab, Jaidi, salah seorang petani, bertanya, “Sebenarnya, seberapa bahaya erosi itu bagi tegal kami? Apa bisa bikin tanahnya hilang?” Pertanyaan ini membuka ruang diskusi interaktif antara warga dan tim KKN.
Mahasiswa kemudian memperkenalkan teknik-teknik konservasi sederhana, seperti pembuatan terasering dan penanaman tanaman penutup tanah yang dapat diterapkan langsung oleh petani.
Kegiatan ini juga menyoroti pentingnya kejelasan batas lahan penggarap. Mahasiswa FP UB melakukan geo-tagging dan inventarisasi lapangan untuk menghasilkan peta digital yang akurat. Pemetaan ini dilakukan bersama warga sebagai bentuk edukasi dan pemberdayaan.
Arif Delviawan, S.Hut., M.Agr., Ph.D., dosen pembimbing berikutnya, menegaskan bahwa langkah ini tidak hanya penting dari sisi teknis, tapi juga dari sisi legalitas.
“Pemetaan ini penting untuk mencegah konflik dan memastikan pengelolaan yang adil serta legal,” ujarnya.
Sementara, Talitha Danish, salah satu anggota tim KKN, menjelaskan bahwa masyarakat tidak hanya dilibatkan sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pelaku aktif dalam proses pemetaan.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya menerima hasilnya, tapi juga ikut dalam prosesnya, agar data yang dihasilkan benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan dan bisa digunakan jangka panjang,” katanya.
Dari sisi pembangunan berkelanjutan, menurut Talitha, kegiatan ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 4 (pendidikan berkualitas), 13 (penanganan perubahan iklim), dan 15 (perlindungan ekosistem darat).
“Edukasi kepada petani mengenai konservasi tanah dan tata kelola lahan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga menjadi bekal untuk adaptasi terhadap perubahan iklim,” katanya.
Mahasiswa juga melakukan dokumentasi praktik baik yang dilakukan masyarakat dalam mengelola lereng dan mengembangkan teknik konservasi berbasis lokal.
“Dokumentasi ini nantinya akan disusun menjadi laporan naratif dan visual yang dapat menjadi rujukan wilayah lain dengan kondisi serupa,” terangnya.
Dijelaskannya, bahwa program ini membuka kemungkinan kolaborasi jangka panjang antara FP UB dan masyarakat Desa Ngenep.
“Pemetaan dan data lapangan yang telah dikumpulkan dapat dijadikan dasar untuk pemantauan perubahan lahan dan pengembangan kebijakan konservasi desa secara lebih terstruktur,” tuturnya.
Warga Dusun Tumpangrejo, Sunari menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa.
Ia merasa pendekatan yang dilakukan tidak hanya menyentuh persoalan teknis, tetapi juga membangun rasa memiliki warga terhadap upaya pelestarian lahan.
“Kami merasa dihargai dan dilibatkan, bukan sekadar diberi tahu. Itu yang membuat warga antusias,” tutupnya. (YM/YM)
