Strategi Petani Jagung Kudus Hadapi Kemarau: Sumur Dangkal untuk Jaga Lahan Tetap Produktif

Petani Jagung, Utomo dan Kades Desa Gulang, Aris Subkhan saat memanen jagung. (Foto: Istimewa)

KUDUS, ZONANEWS.ID – Musim kemarau membuat ketersediaan air menjadi tantangan bagi petani di sejumlah wilayah Kabupaten Kudus. Namun, kondisi tersebut tidak membuat petani di Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, berhenti menggarap lahan.

Salah satu upaya yang dilakukan yakni memanfaatkan sumur dangkal sebagai sumber pengairan. Fasilitas tersebut memungkinkan petani tetap menanam dan merawat tanaman meski pasokan air dari sumber lain terbatas.

Bacaan Lainnya

Petani Desa Gulang, Utomo, mengatakan sumur dangkal menjadi andalan ketika memasuki musim kering. Air dari sumur tersebut digunakan untuk mengairi tanaman agar lahan tetap menghasilkan.

“Kalau musim kering, kami mengandalkan air dari sumur dangkal supaya tanaman tetap bisa menghasilkan,” ujar Utomo, Senin, 28 September 2026.

Utomo yang telah bertani sekitar lima tahun mengaku merasakan perubahan setelah adanya fasilitas sumur dangkal. Menurutnya, hasil pertanian menjadi lebih baik dibandingkan sebelum tersedia sumber pengairan tersebut.

“Alhamdulillah, setelah ada sumur dangkal, pemasukan ada kemajuan. Hasilnya juga lebih bagus daripada sebelumnya,” katanya.

Di Desa Gulang, petani menanam sejumlah komoditas, mulai dari melon, cabai, jagung hingga tembakau. Jenis tanaman yang dipilih menyesuaikan musim dan ketersediaan air.

Ketika musim kemarau tiba, jagung menjadi salah satu tanaman yang masih dapat dibudidayakan dengan memanfaatkan pengairan dari sumur dangkal.

Ia menyebut tidak semua petani memilih mengolah lahan saat musim kemarau. Sebagian memilih menunggu musim penghujan sebelum kembali menanam. Namun, petani yang memiliki kebutuhan dan akses terhadap sumber air tetap memanfaatkan lahan untuk bercocok tanam.

Pemanfaatan sumur dangkal juga membutuhkan biaya operasional. Utomo menyebut petani mengeluarkan sekitar Rp 80 ribu untuk sekali pengairan. Biaya tersebut digunakan untuk kebutuhan listrik dan perbaikan apabila terjadi kerusakan pada mesin.

Meski harus mengeluarkan biaya, Utomo menilai keberadaan sumur dangkal memberikan manfaat karena suplai air dapat diandalkan selama musim kemarau.

“Alhamdulillah suplai airnya lancar. Sumbernya tidak putus dan saat kemarau tetap bisa digunakan untuk pengairan,” katanya.