KUDUS, ZONANEWS.ID – Rapat koordinasi Komisi D DPRD Kudus bersama Disdikpora serta KONI Kudus berlangsung alot dan sempat memanas. Rapat ini membahas polemik penampilan atlet dancesport yang menuai sorotan publik.
Rapat digelar menyusul viralnya penampilan atlet olahraga dance sport saat acara KONI Award yang berlangsung di Pendapa Kudus beberapa waktu lalu. Penampilan tersebut dinilai memicu pro dan kontra di tengah masyarakat.
Dalam rapat tersebut, sejumlah perwakilan pendemo yang turut hadir mencuatkan tuntutan reformasi kepengurusan KONI Kudus. Bahkan, sebagian peserta rapat mendesak agar Ketua KONI Kudus dicopot dari jabatannya.
Rapat koordinasi itu berlangsung di Aula Gedung DPRD Kabupaten Kudus, Senin, 5 Januari 2026. Forum berjalan cukup panjang karena adanya perbedaan pandangan di antara peserta rapat.
Ketua Komisi D DPRD Kudus, Mardijanto, menyampaikan bahwa Pendapa Kudus merupakan tempat yang sakral. Oleh karena itu, setiap kegiatan yang diselenggarakan di lokasi tersebut harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.
Ia menilai penampilan dance sport dalam acara KONI Award terlalu vulgar dan tidak etis jika ditampilkan di Pendapa Kudus yang identik dengan julukan Kota Santri.
Senada, Anggota Komisi D DPRD Kudus, Ali Ihsan, menegaskan pihaknya tidak mempermasalahkan cabang olahraga dancesport atau Ikatan Olahraga Dancesport Indonesia (IODI). Namun, ia menyayangkan pemilihan lokasi penampilan tersebut.
“Kami tidak permasalahkan cabornya, yang jadi masalah adalah tempatnya di pendapa. Kenapa tidak di arena?” ujarnya.
Menyampaikan aspirasi pendemo, Soleh Isman dari Pengkab Voli Pantai menyatakan perlunya reformasi kepengurusan KONI Kudus.
Ia menilai adanya miskomunikasi dan lemahnya koordinasi dalam penyelenggaraan KONI Award, serta menyebut Ketua KONI saat ini dinilai kurang berkomitmen terhadap Pengkab cabor, termasuk dalam penganggaran.
