Kenaikan harga tersebut, tutur Amar, sudah dimusyawarahkan dengan para pengrajin tahu di Kudus.
“Hasil dari musyawarah tersebut, ditetapkan kenaikan sebesar menjadi Rp 3.000 per papan,” jelasnya.
Akibatnya, lanjut Amar, terjadi penurunan produksi hingga 30 persen. Selain itu sudah ada 2 pengrajin tahu yang gulung tikar akibat kenaikan harga tersebut.
“Yang jelas, semuanya mengalami keberatan,” tandasnya.
Untuk mengantisipasi para pengrajin tetap bertahan dan tidak gulung tikar, kata Amar, mereka terpaksa mengurangi produksi atau menaikkan harga.
“Tapi, kalau menaikkan harga di pasar sangat sulit sekali karena daya beli masyarakat menurun pasca ditetapkannya harga BBM oleh pemerintah,” ujarnya.
Di Kabupaten Kudus sendiri, diperkirakan ada 215 pengrajin tahu dan tempe. Pihaknya berharap kepada pemerintah untuk melanjutkan subsidi atau pengganti harga kedelai untuk para pengrajin tahu di Kabupaten Kudus.***
