KUDUS, ZONANEWS.ID – Ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah diperkirakan akan memberi dampak pada perekonomian global, termasuk Indonesia. Konflik yang memanas antara Iran, Israel, dan United States dinilai berpotensi memicu gangguan distribusi minyak dunia.
Dosen dari Universitas Muria Kudus (UMK), Muhammad Teguh Kuncoro menjelaskan bahwa salah satu titik strategis distribusi minyak dunia berada di Strait of Hormuz. Jika jalur tersebut terganggu, maka pasokan minyak global dapat mengalami penurunan dan keterlambatan distribusi.
“Ketika pasokan minyak menurun sementara permintaan relatif tetap, maka secara hukum ekonomi harga akan cenderung naik. Kondisi ini membuat biaya distribusi meningkat dan berdampak pada naiknya harga pokok minyak dunia,” jelasnya.
Ia menambahkan, harga minyak dunia yang sebelumnya berada di kisaran USD 64 per barel kini berpotensi melonjak hingga sekitar USD 100 per barel akibat meningkatnya risiko geopolitik global.
Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyaknya, Indonesia tidak terlepas dari dampak tersebut. Kenaikan harga minyak dunia akan berpengaruh pada besarnya anggaran subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah.
Menurut Teguh, jika harga minyak terus meningkat, subsidi BBM dapat membengkak sehingga berpotensi memperlebar tekanan terhadap anggaran negara. Pemerintah pun perlu mencari sumber pendapatan tambahan, baik dari sektor pajak, penerimaan non-pajak, maupun kebijakan pembiayaan lainnya.
“Dalam jangka pendek, dampak yang paling terasa adalah pada harga BBM non-subsidi yang mengikuti mekanisme pasar. Sementara pemerintah tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga BBM subsidi,” ujarnya.
