Namun demikian, kenaikan harga BBM non-subsidi berpotensi memicu perubahan perilaku konsumsi masyarakat. Sebagian masyarakat kelas menengah kemungkinan akan beralih menggunakan BBM subsidi.
Jika lonjakan permintaan ini tidak diantisipasi dengan baik, kondisi tersebut dapat memicu kelebihan permintaan atau excess demand yang berujung pada antrean panjang bahkan kelangkaan BBM.
“Kita bisa belajar dari kondisi di Philippines, di mana gangguan distribusi BBM sempat memicu kepanikan masyarakat karena pasokan tidak berjalan optimal,” tambahnya.
Lebih lanjut, Teguh juga menyoroti dampak tidak langsung dari kenaikan harga BBM terhadap harga berbagai barang kebutuhan. BBM merupakan komponen penting dalam biaya distribusi barang. Ketika harga bahan bakar naik, biaya pengiriman barang pun meningkat sehingga harga jual di tingkat konsumen ikut terdorong naik.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan efek berantai atau multiplier effect terhadap perekonomian, yang pada akhirnya berpotensi memicu inflasi serta menurunkan daya beli masyarakat.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat mulai lebih bijak dalam mengelola keuangan pribadi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Masyarakat sebaiknya melakukan evaluasi terhadap pengelolaan keuangan, mengatur kembali prioritas kebutuhan, serta memastikan pendapatan mampu memenuhi kebutuhan pokok dan dana cadangan. Situasi global saat ini menuntut kita untuk lebih siap dan waspada,” pungkasnya. ***
