ZONANEWS.ID – Penguasaan keterampilan nonteknis (soft skills) bagi generasi muda kini semakin menjadi kebutuhan. Dengan proporsi Gen Z yang mencapai 27,94 persen dari total penduduk Indonesia pada 2020, penguatan kapasitas ini menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berdaya saing.
Djarum Foundation mengambil langkah jangka panjang untuk memperkuat kompetensi tersebut melalui program Djarum Beasiswa Plus. Program ini membekali para penerimanya dengan soft skills yang relevan untuk menghadapi tantangan abad ke-21.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Temu Wicara Nation Building Beswan Djarum 2025/2026 bertajuk “Karsa Muda Berkarya” yang menekankan pentingnya pengaruh sosial bagi generasi muda, Kamis, 5 November 2026.

“Kami mencermati berbagai laporan global, termasuk dari World Economic Forum, terkait soft skills yang akan semakin dibutuhkan pada masa depan. Salah satunya adalah kepemimpinan dan pengaruh sosial.
Hal ini relevan dengan kecenderungan generasi muda, khususnya Gen Z, yang mengharapkan adanya tujuan dan koneksi sosial ketika memasuki dunia profesional.
Oleh karena itu, melalui Temu Wicara ini, kami tidak hanya menghadirkan narasumber untuk berbagi pengalaman, tetapi juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk membangun jejaring dan berkolaborasi,” ujar Program Manager Djarum Foundation Abraham Delta Oktaviari.
Abraham menambahkan, melalui diskusi tersebut, mahasiswa diajak untuk menemukan dan membangun lingkungan sosial yang bermakna bagi diri mereka.
Mereka juga didorong untuk menjadi bagian dari lingkungan yang positif bagi orang lain sehingga dapat berkolaborasi dalam menciptakan dampak bersama untuk mengatasi berbagai persoalan sosial di masyarakat.
Bagi kreator konten strategis sekaligus wirausahawan Natasha Keniraras, yang dikenal dengan nama “Natkeni” di media sosial, pengaruh sosial semakin krusial dalam membantu generasi muda menjaga kesehatan mental dan keseimbangan diri di berbagai fase kehidupan.
Terlebih, generasi muda, khususnya Gen Z yang kini masih menempuh pendidikan tinggi, menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Salah satunya adalah perkembangan media sosial yang turut membentuk persepsi dan standar sosial.
“Dulu waktu kuliah, aku pernah memublikasikan jurnal hingga tingkat internasional. Namun, di tengah berbagai pencapaian itu, ternyata aku mengalami kelelahan mental. Jadi, punya lingkungan sosial yang suportif itu penting. Mereka bisa memberikan masukan dan dukungan. Namun, yang pada akhirnya menyelamatkan kita justru bagaimana cara kita memandang diri sendiri. Jangan membandingkan perjalanan hidup kita dengan kehidupan orang lain yang terlihat di layar gawai,” kata Natasha.
