“Karena pengalaman sendiri, nglakoni sendiri, jadi bisa tahu caranya didudoi, trik-triknya masuk lewat jalur apa saat ini,” kata Andrias.
Andrias melanjutkan, pelajar dan mahasiswa dilibatkan karena dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat deteksi dini serta menyebarkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dia menyebut kondisi keamanan di Kabupaten Kudus hingga saat ini relatif kondusif. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan terhadap paham yang mengarah pada radikalisme destruktif.
Pemantauan dilakukan melalui koordinasi dengan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) serta unsur intelijen dari berbagai instansi.
Menurut Andrias, penguatan ideologi Pancasila menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah masyarakat, khususnya generasi muda, mudah terpengaruh paham radikal.
Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial diharapkan terus ditanamkan sejak lingkungan sekolah dan keluarga.
“Sehingga tidak mudah terbawa paham-paham yang ke arah radikalisme. Dan juga tidak hanya berhenti di situ, tidak hanya kepada pelajarnya, nanti bisa menularkan kepada temannya, ke masyarakat, keluarga, dan tetangga sekitar tentunya,” ujarnya.
