“Saya setuju kalau wakil peserta MTQ dari Jati ke tingkat kabupaten dipilih dari kompetisi. Kalau ditunjuk kok kesannya sangat subjektif,” terangnya.
Hartopo menggarisbawahi agar kompetisi menjadi pengalaman berharga bagi peserta. Setiap perlombaan pasti ada peserta yang menang dan kalah. Namun, pelajar perlu melihat kompetisi MTQ sebagai kesempatan tampil dan pendalaman Al-Qur’an lebih baik.
“Ini kesempatan bagi adik-adik untuk tampil, berkompetisi, sekaligus mendalami Al-Qur’an,” pesannya.
Camat Jati Fiza Akbar menjelaskan ajang kompetisi sebagai perwujudan untuk meningkatkan religiusitas pelajar dan meningkatkan kemampuan. Fiza menyatakan terdapat 40 SD, 14 MI, 7 SMP, 4 MTs, 2 SMA, dan 3 MA yang berpartisipasi dalam MTQ. Pihaknya menegaskan akan berupaya menyelenggarakan kompetisi setiap tahun.
“Beberapa sekolah mengirimkan lebih dari satu peserta. Semoga MTQ menjadi motivasi untuk pengembangan diri di bidang keagamaan,” ujarnya.
Saat pembukaan, beberapa undangan turut hadir. Di antaranya KH. Zaenal Afroni, H. Miftah Baedhowi, dan Forkopimcam Jati.***
