Bisu dalam Penderitaan: Mengapa Anak Korban Pelecehan Seksual Tidak Berbicara?

Mahasiswa Psikologi yang sedang PKL di PPA Satreskrim Polres Kudus. (Istimewa)

Sebagai pemimpin keluarga, sosok ayah seharusnya melindungi dan memimpin keluarganya. Namun, ia malah melakukan hal keji pada anaknya sehingga membuat N merasa tertekan dan tidak dapat berbicara mengenai masalah yang menimpanya. Anak sering kehilangan kepercayaan pada orang dewasa dalam situasi seperti ini dan merasa terasingkan dari dunia yang seharusnya menjadi tempat perlindungan mereka.

Tidak dapat diabaikan betapa pentingnya mendengarkan suara anak dan menciptakan platform yang aman untuk mereka berbicara. Setiap anak berhak memiliki perasaan didengar dan dipercaya. Ini adalah panggilan bagi kita semua untuk melindungi anak-anak, mengidentifikasi tanda-tanda pelecehan seksual, dan memberikan dukungan yang diperlukan bagi korban.

Sebagai anggota masyarakat yang baik, kita memiliki tanggung jawab untuk memahami dan merespons isu pelecehan seksual ini. Sangat penting bagi keluarga dan masyarakat untuk memberi anak-anak lingkungan yang aman dan terbuka selain itu juga memberikan edukasi kepada mereka.

Bacaan Lainnya

Kita perlu mengubah stigma korban pelecehan seksual melalui kisah N. Mereka bukanlah orang-orang yang bertanggung jawab atas tindakan yang menimpa mereka; sebaliknya, mereka adalah pahlawan yang berani menceritakan pengalaman mereka yang mengerikan kepada orang lain. ***