Bedah Buku Karya Kiai Tafsir, UMKU Ajak Mahasiswa Kenali Muhammadiyah Lebih Dekat

Acara bedah buku karya Kiai Tafsir di UMKU. (Istimewa)

Ia menambahkan bahwa kelahiran Muhammadiyah dalam rangka memudahkan, menampilkan wajah dakwah yang luwes, menggembiarakan dan mudah.

Sementara Riska Himawan sebagai pembedah menyimpulkan, buku ini berisi pilihan dakwah yang problematik. Purifikasi yang ditekankan lebih bersahabat dengan budaya. Nilai yang ada di dalam budaya yang perlu disentuh sesuai ajaran islam, namun budayanya tetap dilestarikan sepanjang masih bisa ditoleril agar dakwahnya tetap terasa lembut dan lebih humanis.

“Menarik apa yang disampaikan penulis, Kiai Tafsir menjelaskan, bahwa Muhammadiyah lahir bukan merubah dalil, tapi hanya merubah cara pandang yang lebih progresif dengan konsep tajdidnya,” paparnya.

Bacaan Lainnya

Sebagai contoh, Tafsir menyebutkan, bahwa dulu anak pesantren atau pondok identik dengan penyakit kulit (gudik). Hal ini terjadi karena cara pesantren memandang sebuah dalil. Salah satu dalilnya adalah ‘dalam air dua kulah (kolam) maka di situ tidak ada najis.’

Sementara dalam hal air suci ini, Muhammadiyah melakukan tajdid sehingga lahirlah air wudhu dari kran.

“Dua kulah itu ada dalilnya dan suci, tapi kran selain suci juga sehat. Itulah contoh tajdid ilmu agama beriringan dengan ilmu kesehatan,” terang Tafsir. ***