Nuryanto pun berharap, kalangan 3B dapat menjadi perhatian khusus sebagai penerima manfaat dari program MBG. Menurutnya, kalangan inilah yang sebenarnya membutuhkan pengawalan terhadap asupan gizi dalam sehari-hari.
“Saya juga tidak mendapat jawaban mengapa masih sangat kecil dari ibu hamil, ibu menyusui dan balita yang mendapat manfaat dari MBG, padahal mereka juga penting, harapannya agar mereka bisa jadi prioritas,” tandasnya.
DKK Kudus, lanjut Nuryanto, juga membuka pintu selebar-lebarnya bagi SPPG atau dapur penyedia MBG yang ingin berkonsultasi terkait pemenuhan gizi yang sesuai standar. Namun, sayangnya pihaknya tidak pernah dilibatkan.
Ia mewanti-wanti, jangan sampai terjadi peristiwa yang tidak diinginkan baru mereka kebingungan untuk mencari solusi, seperti saat keracunan waktu lalu. Terlebih, petugas SPPG dinilai masih muda dan belum banyak berpengalaman.
“Kalau saya lihat kan dari kepala SPPG sampai ahli gizinya kan masih muda, kami di DKK juga punya ahli gizi yang sudah berpengalaman banyak, kami harap bisa saling sharing, tapi ya sampai saat ini mereka masih pasif,” tambahnya.
Ke depan, Nuryanto pun berharap agar sasaran penerima manfaat dari program MBG tidak hanya berfokus pada anak yang berada di bangku sekolah saja. Tetapi juga menaruh perhatian pada kalangan 3B yang sangat perlu asupan gizi untuk derajat kesehatan mereka. ***
