Namun, untuk pastinya, Omah Kapal itu dulunya tidak digunakan untuk kepentingan komersil. Omah Kapal dijadikan vila pribadi oleh Muzahid untuk berkumpul bersama keluarga. Bahkan, Omah Kapal juga sering menjadi tempat tidur kedua oleh keluarga Muzahid.
Menurut cerita, dulu sekitaran Omah Kapal masih banyak pepohonan dan belum banyak bangunan. Sehingga, suasana vila pribadi itu pun semakin nyaman dan sejuk. Kondisi halaman dan pekarangan juga sangat luas, sehingga tidak membatasi pergerakan aktivitas keluarga.
“Jadi memang semacam vila pribadi, apalagi dulu kan ada taman dan pepohonan jadi masih sangat rindang,” tambahnya.
Lebih lanjut, Tika membeberkan bahwa halaman Omah Kapal pada saat itu juga sempat menjadi landasan pesawat oleh Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) pada tahun 1996. Sehingga, Omah Kapal menjadi salah satu Cagar Budaya yang dimiliki Kudus.
“Iya di halamannya pernah dibuat landasan oleh pasukan RPKAD, benar-benar mendarat di halamannya itu, sekitar tahun 1996,” bebernya.
Saat ini, keberadaan Omah Kapal masih bisa dilihat di Kabupaten Kudus. Namun, kepemilikannya saat ini sudah berpindah tangan ke orang lain atau bukan lagi milik keluarga Muzahid. Pemilik saat ini pun berencana melakukan revitalisasi agar bisa menjadi obyek wisata.
Ini melihat, kondisi Omah Kapal saat ini sudah tidak layak lagi. Meskipun konstruksi bangunan masih nampak seperti kapal. Omah Kapal diketahui sempat tidak terawat cukup lama, sehingga keberadaannya tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas. ***
