“MoU ini menjadi pintu pembuka kolaborasi yang lebih luas, khususnya dalam pengembangan penelitian dan pengabdian masyarakat di tingkat internasional,” ujarnya.
Prof. Darsono juga menekankan pentingnya kegiatan seperti ICCD-11 dalam membangun kesadaran regional terhadap inovasi sosial.
“Forum seperti ini mempertemukan para akademisi lintas negara untuk berbagi solusi berbasis ilmu pengetahuan bagi pengembangan masyarakat yang tangguh dan berkelanjutan,” tambahnya.
Konferensi ICCD-11 tahun ini mengangkat tema “Empowering Communities for a Resilient Future: Innovations, Sustainability, and Inclusivity.”
Dalam konferensi ini, peserta dari berbagai negara ASEAN dan Asia berkumpul untuk berbagi gagasan dan hasil riset seputar pengembangan masyarakat berbasis inovasi, keberlanjutan, dan pendekatan inklusif.
Delegasi UMK yang hadir juga turut mempresentasikan riset dalam sesi paralel, termasuk topik tentang filosofi Gusjigang dan pengembangan UMKM, sebagai kontribusi khas dari budaya Kudus terhadap pembangunan masyarakat.
Penandatanganan MoU ini diharapkan membuka peluang lebih luas bagi pertukaran pelajar, kolaborasi riset, pengabdian masyarakat lintas negara, serta penguatan program internasionalisasi UMK ke depan. ***
