KUDUS, ZONANEWS.ID – Persediaan air bersih warga di sejumlah wilayah Kabupaten Kudus semakin terbatas seiring berlangsungnya musim kemarau. Hingga Senin, 28 September 2026, tercatat sebanyak 1.309 kepala keluarga (KK) atau 3.986 jiwa terdampak kekeringan.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus menunjukkan, kekeringan telah menjangkau tujuh wilayah yang berada di tiga kecamatan.
Wilayah tersebut yakni Desa Glagahwaru, Kecamatan Undaan, Dukuh Colo Desa Colo, Kecamatan Dawe, serta Desa Setrokalangan, Kedungdowo, Mijen, Karangampel dan Kaliwungu di Kecamatan Kaliwungu.
Kepala BPBD Kudus Eko Hari Djatmiko mengatakan, distribusi air bersih terus dilakukan secara bertahap untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air.
“Dropping air bersih terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak,” kata Eko, Rabu, 30 September 2026.
Glagahwaru menjadi daerah yang mengalami kekeringan paling awal. Sejak 15 Juli 2026, sebanyak 606 KK atau 1.695 jiwa di desa tersebut tercatat mengalami kesulitan air bersih.
Jumlah tersebut tersebar di beberapa wilayah, yakni RW 3 sebanyak 375 KK atau 1.091 jiwa, RW 2 sebanyak 54 KK atau 152 jiwa, RW 1 sebanyak 102 KK atau 276 jiwa, serta RW 5 sebanyak 75 KK atau 176 jiwa.
Sementara itu, kekeringan di Dukuh Colo, Desa Colo, Kecamatan Dawe, mulai tercatat sejak 9 Agustus 2026. Sebanyak 20 KK atau 80 jiwa di RT 4 RW 1 terdampak kondisi tersebut.
Di Kecamatan Kaliwungu, Desa Setrokalangan mulai mengalami kekurangan air sejak 18 Agustus 2026. Wilayah tersebut mencatat 137 KK atau 375 jiwa terdampak.
Kekeringan kemudian meluas ke Desa Kedungdowo sejak 28 Agustus dengan jumlah terdampak sebanyak 91 KK atau 295 jiwa. Selanjutnya, Desa Mijen mulai mengalami kondisi serupa pada 8 September dengan jumlah warga terdampak mencapai 401 KK atau 1.383 jiwa.
Menurut Eko, penanganan tidak hanya dilakukan melalui pengiriman air menggunakan tangki. BPBD juga menempatkan tandon di sejumlah titik yang mengalami kesulitan air.
