Saat ini, lanjut Anggun, proyek rehab sekolah masih dalam tahap perencanaan. Pihaknya menargetkan pada Februari 2026, proyek ini sudah masuk dalam penyediaan barang dan jasa. Sehingga, pada Maret 2026, sudah bisa mulai pengerjaan fisik.
“Targetnya minggu kedua Bulan Maret (2026) itu sudah bisa mulai pengerjaan fisik, setidaknya satu paket pengerjaan bisa dimulai,” harapnya.
Upaya perbaikan fasilitas pendidikan pun akan terus dilakukan, mengingat jumlah sekolah rusak di Kudus yang memang terus ada setiap tahun. Hanya, karena keterbatasan anggaran maka proyek perbaikan belum bisa menyentuh secara menyeluruh.
Untuk memaksimalkan perbaikan sekolah yang mengalami kondisi rusak mendadak dan mendesak, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus telah menyusun skema alokasi anggaran perawatan. Anggun menyebut, tahun ini anggaran perawatan dialokasikan sekitar Rp 3,7 miliar.
“Anggaran perawatan sekolah ini merupakan skema dari Bupati Kudus. Harapannya, sekolah-sekolah yang rusak mendadak dan mendesak yang tidak masuk anggaran perbaikan reguler, bisa ditangani lewat anggaran ini,” tuturnya.
Anggun membeberkan, ada dua sekolah yang telah masuk dalam daftar perbaikan melalui skema angaran perawatan. Yakni, SD 1 Sidomulyo dan SD 4 Bulungcangkring di Kecamatan Jekulo. Yang mana, kedua sekolah tersebut mengalami kerusakan pada atap.
