KUDUS, ZONANEWS.ID – Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Kabupaten Kudus mempersembahkan pentas teater dan film dokumenter bertajuk “Gadis Pingitan” di Gedung Auditorium Universitas Muria Kudus, Sabtu, 9 Mei 2026 malam.
Pertunjukan produksi kedua Teater Guru Kudus itu mengangkat tradisi pingitan di Kudus Kulon pada masa lampau sekaligus memaknai ulang nilai-nilai pendidikan keluarga untuk generasi masa kini.
Pertunjukan dibuka dengan kemunculan seorang perempuan tua berpakaian adat Jawa yang berjalan perlahan di tengah panggung temaram.
Sorot lampu biru redup menyoroti ruang sempit yang menjadi batas kehidupannya dengan dunia luar, lengkap dengan pintu, jeruji jendela, serta padasan atau tempat berwudhu.
Suasana sunyi dan simbolis langsung membawa penonton masuk ke dalam konflik batin tokoh utama.
Tokoh perempuan tua itu tampak berjuang menyalakan lilin yang terus padam.
Adegan tersebut menggambarkan pergulatan batin perempuan yang mempertanyakan hak dan kebebasannya di tengah tradisi yang membatasi ruang geraknya.
Kalimat reflektif tentang cahaya di tengah kegelapan menjadi penanda awal kritik sosial yang diusung dalam pertunjukan tersebut.
Adegan kemudian berganti dengan permainan jaranan yang dimainkan anak-anak laki-laki.
Sejumlah anak perempuan mencoba ikut bermain, namun mendapat larangan.
Penolakan itu memicu pertengkaran kecil yang menjadi simbol keberanian perempuan melawan stigma dan diskriminasi gender yang telah lama mengakar dalam masyarakat.
Konflik utama muncul melalui tokoh Haryuni, seorang gadis remaja cerdas yang menolak tradisi pingitan.
Ia merasa tradisi tersebut sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman dan menjadi penghalang bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan serta kebebasan menentukan masa depan.
Haryuni pun mencurahkan isi hatinya kepada sang ibu, Sumarti. Namun, Sumarti tidak mampu melawan kehendak suaminya, Hartono, yang memegang teguh tradisi keluarga.
Ia hanya meminta Haryuni mencari pengalaman di dalam rumah melalui pekerjaan domestik seperti memasak, mencuci, dan membersihkan rumah.
Ketegangan memuncak ketika Hartono mengetahui Haryuni pergi dari rumah tanpa pendamping keluarga.
