Teater “Gadis Pingitan” Tampil Memukau, Potret Pergulatan Perempuan Melawan Belenggu Tradisi di Kudus

Pentas teater "Gadis Pingitan" di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Kabupaten Kudus. (Foto: Zonanews.id)

Dengan penuh amarah, Hartono memukul anaknya sambil menegaskan bahwa gadis berusia 17 tahun sudah seharusnya dipingit dan tidak berkeliaran di luar rumah.

Adegan emosional tersebut menggambarkan benturan keras antara tradisi dan keinginan perempuan untuk meraih kebebasan.

Perdebatan dalam keluarga semakin tajam ketika Hartono ingin segera menerima lamaran laki-laki pertama yang datang meminang Haryuni.

Bacaan Lainnya

Di sisi lain, Sumarti mencoba membela anaknya karena melihat kecerdasan dan cita-cita besar yang dimiliki Haryuni untuk memperoleh pendidikan lebih tinggi.

Suasana pertunjukan semakin dramatis saat keluarga saudagar kretek datang melamar Haryuni.

Tokoh Haryuni yang diam-diam menguping pembicaraan itu memilih melarikan diri melalui jendela dapur.

Baginya, rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi penjara akibat tradisi pingitan yang dijalankan secara kaku.

Adegan penutup menghadirkan pertemuan antara Haryuni tua dengan dirinya semasa muda.

Sorot lampu merah perlahan meredup, menyisakan cahaya yang terpusat pada kedua tokoh tersebut. Momen itu menggambarkan penerimaan diri, perjuangan hidup, serta harapan akan masa depan perempuan yang lebih merdeka.

Ketua MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Kudus, Arif Budiman, mengatakan bahwa pertunjukan tersebut tidak sekadar hiburan, tetapi juga sarana pendidikan karakter.

Menurutnya, nilai-nilai pendidikan keluarga, pola pengasuhan anak, dan pelajaran kehidupan menjadi pesan utama yang ingin disampaikan kepada generasi muda melalui pentas “Gadis Pingitan”.

“Dari pentas itu, ada pendidikan karakter, bagaimana nilai-nilai dalam pendidikan keluarga, cara mengasuh anak, dan apa yang bisa dipetik pelajaran,” kata Arif ditemui usai pentas.

Sementara itu, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengapresiasi kreativitas Teater Guru Kudus dalam mengangkat kearifan lokal melalui seni pertunjukan. Ia berharap perempuan di Kudus dapat semakin berdaya dan bebas mengekspresikan gagasannya di ruang publik.

Pemerintah Kabupaten Kudus, lanjutnya, akan terus mendukung perkembangan seni dan budaya agar kearifan lokal Kudus mampu dikenal lebih luas hingga tingkat dunia.

“Melalui gadis pingitan, kami ingin kearifan lokal di Kudus bisa mendunia. Jiwa yang besar, ada perempuan hebat dan punya keterampilan di dalamnya,” ungkapnya.