Talkshow Kekudusan 2026: Menggali Sejarah Tari Kretek dan Warisan Jenang Kudus

Perpustakaan Universitas Muria Kudus (UMK) sukses menggelar acara kebudayaan bertajuk "Talkshow Kekudusan 2026". (Foto: Istimewa)

Menurutnya, kolaborasi antara akademisi, praktisi seni, dan pelaku industri seperti ini adalah kunci utama agar warisan asli Kudus tetap hidup dan relevan.

Pada sesi utama, Endang Tonny memukau audiens dengan memaparkan filosofi dan sejarah panjang di balik terciptanya Tari Kretek, yang kini telah menjadi tarian selamat datang resmi dan identitas kultural Kabupaten Kudus.

“Tari Kretek lahir dari rahim realitas sosial masyarakat Kudus. Gerakannya bukan sekadar estetika panggung, melainkan sebuah dokumentasi visual tentang ketekunan, dinamika, dan etos kerja para buruh pelinting rokok kretek. Menghadirkan cerita ini di lingkungan kampus adalah langkah luar biasa untuk memastikan bahwa identitas kultural kita tidak hilang tergerus zaman,” ungkap Endang Tonny.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, dari sisi warisan kuliner, Manager Marketing Jenang Mubarok Muhammad Kirom membagikan kisah inspiratif mengenai eksistensi Jenang Kudus yang mampu bertahan melintasi berbagai generasi hingga menjadi komoditas ekonomi kreatif yang mendunia.

“Jenang Mubarok bukan sekadar industri makanan, melainkan jejak sejarah diplomasi budaya lewat rasa. Melalui forum ini, kami ingin menginspirasi mahasiswa bahwa merawat tradisi kuliner lokal bisa berjalan beriringan dengan inovasi bisnis modern. Kami sangat bangga dapat mendukung penuh acara ini bersama Perpustakaan UMK untuk terus menggaungkan cerita budaya Kudus,” kata Muhammad Kirom.

Melalui kegiatan ini, Perpustakaan UMK berharap dapat bertransformasi bukan hanya sebagai tempat membaca buku, melainkan sebagai pusat ruang kreatif (creative hub) berbasis literasi budaya lokal. ***