Strategi Petani Jagung Kudus Hadapi Kemarau: Sumur Dangkal untuk Jaga Lahan Tetap Produktif

Petani Jagung, Utomo dan Kades Desa Gulang, Aris Subkhan saat memanen jagung. (Foto: Istimewa)

Kepala Desa Gulang, Aris Subkhan, mengatakan pemerintah desa telah menyiapkan sumur pompa untuk mendukung kebutuhan pengairan petani selama musim kemarau.

Salah satu sumur dangkal tersebut dimanfaatkan untuk mengairi lahan tanaman jagung dengan cakupan sekitar lima hingga enam hektare.

“Desa sudah menyiapkan sumur pompa untuk pengairan petani. Untuk jagung, bisa mengairi sekitar lima sampai enam hektare,” kata Aris.

Bacaan Lainnya

Selain lahan jagung, terdapat fasilitas sumur lainnya yang dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian. Pemerintah desa menyebut terdapat dua titik pembangunan sumur untuk membantu pengairan lahan warga.

Menurut Aris, pembangunan fasilitas tersebut dilakukan dengan dukungan anggaran desa melalui program ketahanan pangan. Sementara satu fasilitas lainnya berasal dari bantuan dinas.

“Ada dua titik sumur. Satu kami anggarkan dari desa untuk ketahanan pangan, sedangkan yang lainnya dari bantuan dinas,” jelasnya.

Keberadaan sumur dangkal dinilai membantu menjaga aktivitas pertanian tetap berjalan ketika kondisi lahan mulai mengalami kekeringan. Petani masih memiliki sumber air untuk merawat tanaman yang sudah ditanam maupun memulai budidaya komoditas tertentu.

Aris mengatakan tanaman jagung, tembakau dan komoditas lainnya masih dapat dikembangkan selama kebutuhan air dapat terpenuhi.

“Walaupun kering, pertanian masih bisa berkelanjutan untuk tanam. Salah satunya jagung, sebelumnya juga ada tembakau dan tanaman lainnya,” ujarnya.

Sementara petani yang tidak melakukan penanaman selama musim kemarau memanfaatkan waktu untuk membersihkan dan menyiapkan lahan.

Langkah tersebut dilakukan sembari menunggu musim tanam pertama atau MT I yang bertepatan dengan datangnya musim penghujan.

Dengan adanya sumur dangkal, sebagian petani tetap memiliki pilihan untuk mengolah lahan selama musim kemarau. Sumber air tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga lahan pertanian tetap produktif sekaligus mempertahankan pendapatan petani.

“Sebagian petani menunggu MT I sambil membersihkan lahan. Tetapi yang masih bisa mendapatkan air tetap bergeliat menanam jagung dan tanaman lainnya,” pungkas Aris.***