Disebutkan jika bangunan ini mulai beralih fungsi menjadi tempat beribadah umat Islam melalui pengaruh Sunan Kudus.
Langgar Bubrah dibentuk dari tumpukan batu bata merah serta memiliki relief-relief.
Bangunan Langgar Bubrah itu berdiri di atas lahan seluas 100 meter persegi. Panjang bangunannya 10 meter, lebarnya 10 meter, dan tingginya 175 meter. Sementara luas bangunannya 25 meter persegi.
Langgar Bubrah sendiri menurut Zaki dibangun pada abad ke-14 masehi, pada masa Pangeran Poncowati yang merupakan keturunan Majapahit.
“Pangeran Pancawati sendiri merupakan adik dari senopati Kerajaan Demak, Raden Patah. Makamnya pangeran Pancawati sendiri ada di komplek masjid Menara Kudus,” imbuhnya.
Usia langgar bubrah diyakini lebih tua dari bangunan Menara Kudus, karena dibangun sebelum masuknya Islam yang disebarkan Sunan Kudus pada masa itu.
Banyak warga termasuk Pangeran Poncowati semula Hindu memilih berpindah ke agama Islam pada masa itu.
Sedangkan terkait batu yang disebut-sebut masyarakat sebagai lingga dan yoni, menurut Zaki kurang tepat.
“Itu bukan lingga dan yoni, tetapi batu lumpang. Banyak memang warga Kudus atau warga sekitar salah mengartikan sebagai lingga yoni. Kalau yoni itu berbentuk persegi dan di tengahnya ada lubang, kemudian ada aliran air. Sedangkan yang di langar bubrah bentuknya bulat. Kalau lingga seperti tugu batu, memang bisa dikatakan demikian,” bebernya.
Lebih lanjut, Zaki menyampaikan kekhawatirannya, sebab menurut sejahrawan UGM, ukiran relief di batu bata belum ditemukan gambar aslinya.
Sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan renovasi total sedangkan kondisi fisik Langgar Bubrah cukup menghawatirkan.***
