Kasmiran mengungkapkan, setiap hektar lahan yang puso mendapat bantuan Rp 8 juta. Pencairan bantuan itu pun telah dikirim ke rekening masing-masing petani yang diusulkan sejak 3 Januari 2025 lalu.
Setelah ada protes tersebut, Pemdes Gondoharum berencana mengadakan rapat dengan semua anggota poktan yang lahannya puso, baik mereka yang sudah mendapat bantuan maupun yang belum.
“Kami akan kumpulkan semua, kesepakatannya bagaimana,” ucapnya.
Penjelasan yang disampaikan Kepala Desa Gondoharum dibenarkan Ketua Poktan Sidodadi Dukuh Tompe, Sutarmin.
Ditemui di rumahnya, Tarmin mengatakan, sebelumnya semua anggotanya telah sepakat akan membagi bantuan stimulan kepada semua anggota, bukan hanya yang diajukan saja.
Keterbatasannya yang tidak bisa membaca dengan lancar dan kurang pandai dalam perhitungan karena tidak sekolah, membuatnya memilih 33 orang sebagai perwakilan untuk mendapat bantuan.
“Total anggota saya itu ada 80 orang yang lahannya gagal panen, tapi yang mewakili 33 orang. Setelah bantuannya cair, ternyata ada yang tidak mau memberikan uang itu untuk dibagi,” terang Tarmin dengan Bahasa Jawa.
Dirinya pun siap membuktikan bahwa tidak ada niat baginya mengambil bantuan tersebut untuk dirinya sendiri. Tarmin hanya ingin membantu semua anggotanya agar bisa mendapat bantuan secara rata.
Tarmin juga telah mendatangi satu-satu dari 33 orang perwakilan terkait rencananya membagi rata sesuai kerugian ketika semua uang bantuan cair.
“Tapi ternyata waktu bantuan cair, tidak semua mau dibagi-bagi,” katanya dengan wajah kebingungan dan pasrah.
Untuk saat ini, Tarmin sangat berharap bantuan dari pemerintah Desa Gondoharum maupun Pemkab Kudus untuk bisa membantunya menyelesaikan polemik bantuan stimulan bagi petani yang lahannya puso.***
