Musthofa: Berpolitik Harus Beretika dan Bermartabat Serta Toleransi Demokrasi

Anggota MPR Musthofa saat memberikan sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan dihadapan Tokoh Masyarakat Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus di Balai Desa Loram Wetan, Minggu 8 Juli 2025 (Foto: YM)

KUDUS – ZONANEWS.ID — Anggota DPR dan MPR RI, H. Musthofa, menekankan pentingnya memahami sejarah, berpolitik secara etis, serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa. Hal itu disampaikannya saat menggelar sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Balai Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, pada Minggu, 6 Juli 2025 siang.

Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 150 tokoh masyarakat Desa Loram Wetan. Mereka hadir untuk mendengarkan langsung pemaparan nilai-nilai dasar kebangsaan yang meliputi Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Musthofa yang juga merupakan anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan menyampaikan, kemerdekaan Indonesia bukan datang secara tiba-tiba. Ia mengajak masyarakat untuk mengingat kembali bagaimana para pendiri bangsa, khususnya Bung Karno dan para alim ulama, berjuang keras untuk memerdekakan republik ini.

Bacaan Lainnya

“Kemerdekaan bangsa ini diraih dengan darah dan air mata. Bung Karno tidak sendiri. Ada para ulama dan tokoh-tokoh masyarakat yang mengorbankan segalanya demi Indonesia merdeka,” ujar Musthofa.

Ia juga menegaskan pentingnya menjaga warisan sejarah dengan tidak melupakan jasa-jasa para orang tua dan pendahulu. Menurutnya, menghormati orang tua bukan sekadar nilai moral, tapi bagian dari penghargaan terhadap perjalanan bangsa.

“Jangan pernah lupakan sejarah. Jas Merah, kata Bung Karno. Kita harus bangga pada orang tua kita, para pejuang, dan tokoh masyarakat yang sudah mengawal republik ini dari awal,” jelasnya.

Baca :  Agen Waswas Pembeli Lari ke LPG Subsidi : Mending Harga Disamakan

Dalam forum tersebut, Musthofa juga menyoroti praktik politik kekinian yang cenderung mengabaikan nilai-nilai etika dan gotong royong. Ia mengingatkan bahwa berpolitik bukan sekadar soal kekuasaan, melainkan alat untuk menyejahterakan rakyat secara kolektif.

“Berpolitik itu harus beretika. Jangan saling menjatuhkan. Bangsa ini berdiri karena gotong royong, bukan karena individualisme,” tegas mantan Bupati Kudus dua periode itu.

Musthofa menyebut bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa harus dijadikan pedoman hidup dan bukan hanya slogan belaka. Semua sila di dalamnya mengajarkan nilai-nilai universal yang bisa diaplikasikan di semua lini kehidupan masyarakat Indonesia.

“Kalau Pancasila benar-benar kita amalkan, kita tidak akan terpecah karena suku, agama, ataupun pilihan politik. Karena semua sudah diatur dalam nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan persatuan,” kata Musthofa.

Para peserta dialog tampak antusias mengikuti kegiatan yang dikemas dengan suasana kekeluargaan tersebut. Beberapa tokoh masyarakat juga turut menyampaikan pendapat tentang pentingnya sosialisasi nilai-nilai kebangsaan, terutama kepada generasi muda agar tidak tercerabut dari akar sejarah dan jati diri bangsa.

Sebagai wakil rakyat dari Dapil III Jawa Tengah yang meliputi Demak, Kudus, dan Jepara, Musthofa mengatakan bahwa tugas utama anggota MPR adalah menjaga semangat kebangsaan tetap menyala di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

Forum itu juga menjadi ruang pengingat bahwa perbedaan adalah bagian tak terpisahkan dari kebangsaan Indonesia. Musthofa meyakini, hanya dengan sikap saling menghormati, menjaga etika, dan mengamalkan nilai luhur Pancasila, Indonesia bisa tetap berdiri kokoh sebagai bangsa besar.

“Mari terus kita jaga republik ini dengan semangat gotong royong, dengan menghormati sejarah, dan dengan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Jangan biarkan perbedaan memecah kita. Justru dari kebhinnekaan itulah Indonesia kuat,” pungkas H. Musthofa. (***)

Baca :  Ribuan Pejuang Amplop Cokelat Banjiri Job Fair UMK Kudus