Terkait hal itu, sebanyak 620 Cargar Budaya dan 10 Obyek Pemajuan Kebudayaan (OPK) yang ada di Kudus, perlu diinventariasi dan didata lebih lanjut. Mulai dari tradisi lisan, cerita rakyat, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, hingga pelaku kebudayaan.
”semua diinventaris, apa yang otentik di piji wetan, di Kudus, dilakukan pemilihan berdasarkan keaslian, keunikan dan memang tidak ditemukan di tempat lain,” imbuhnya.
Sementara itu, Dosen Universitas Muria Kudus, Muhammad Kanzunuddin merespons tema folklor yang diangkat sebagai fokus utama dalam penyelenggaraan Kemah Budyaa KBPW 2023. Dia pun mendukung dan mengapresiasi langkah yang diambil KBPW untuk mengawali penanaman karakter bangsa melalui cerita rakyat.
”Nilai yg dominan di era sekarang ini yang justru nampak adalah pendidikan, budi pekerti dan nilai-nilai karakter,” ujarnya.
Dosen yang biasa dipanggil Pak Udin itu menilai folklor dan cerita rakyat merupakan warisan budaya yang menawarkan ruang kreativitas tak terbatas. ”Cerita rakyat merupakan rekonstruksi satu pemikiran, kesadaran pembentuknya, cerita rakyat punya peranan kuat dalam memekontruksi dan memprekuat sterotipe budaya yang ada,” papar Kanzunuddin.
Hal ini, kata dia, menjadi peluang sekaligus tantangan bagi teman-teman KBPW untuk menanamkan nilai-nilai ke masyarakat melalui folklor.
”Langkah adaptasi folklor jadi media tiga dimensi sudah tepat, bagaimana pelaku seni perlu kreatif, adaptif dan inovatif agar dapat diterima seluruh masyarakat,” bebernya.
Berbagai OPK yang telah dieksplorasi di KBPW, diharapkan dapat menjadi contoh dan inspirasi bagi masyarakat, anak muda dan komunitas lain untuk turut mengembangkan daerahnya sesuai dengan kekhasannya masing-masing.
”Apa yang sudah dibedah dan didiskusikan tadi, ini menjadi cita-cita dan harapan kami. Minimal KBPW sudah memulai, KBPW bisa bekerja seperti ini karena potensi masing-masing individu ditempatkan sesuai prosinya. Semoga bisa memberikan referensi dan lebih-lebih inspirasi bagi masyarakat luas,” ungkap Rhy Husaini, tim kreatif KBPW di akhir materi seminar. (***)
