Masjid Wali Al-Ma’mur Desa Jepang cukup familiar diketahui masyarakat, sebab menjadi salah satu indikator sekaligus simbol penyebaran Islam ramah di Kabupaten Kudus.
Lebih lanjut, Ridwan mengatakan makna dari Gapura Padureksan, yang berasal dari perpaduan kata “Padu” dan “Reksa” yang berarti perpaduan yang direksa, atau bermakna perpaduan yang dijaga.
“Gapura Padureksan juga simbol sinergi antara ulama dan pemerintah kerajaan pada kala itu,” tandasnya.
Berdasarkan penjelasan yang mengacu pada penerjemah serat Jawa kuno yang bernama Ki Herman Sinung Janutama,
Gapura Padureksan memiliki perpaduan antara pangiwo (kiri) dan penengen (kanan).
“Pangiwo berarti mewakili pemerintahan kerajaan pada kala itu, sedangkan penengen mewakili ulama, dari situlah tercermin simbol sinergi antara pemerintah dengan para ulama,” jelasnya.
Sementara mengenai mitos yang berkembang di kalangan masyarakat, Ridwan mengisahkan bahwa air salamun yang berada di dalam Masjid Wali peninggalan Sunan Kudus Masjid tersebut dipercaya dapat menyembuhkan bermacam jenis penyakit dan membawa keselamatan.
“Dalam Al-Qur’an terdapat lafadz ‘Salaamun’ sebanyak 7 kali diberbagai ayat, salah satunya QS. As-Saffat Ayat 79: Salaamun ‘alaa Nuuhin fil ‘aalamiin yang berarti ‘Kesejahteraan (Kami limpahkan) atas Nuh di seluruh alam’,” tandasnya.
Selain tradisi Rebo Wekasan juga masih terdapat tradisi memberikan ingkung ayam saat akan ada hajat sebagai bentuk sedekah yang sudah ada sejak dahulu di Masjid Al Makmur.
“Dengan harapan insya Allah selamat dunia akhirat dan selalu melestarikan ingkung ayam yang disuguhkan di masjid didoakan di makam menjadi wasilah. Makanan agar hajat dilaksanakan selamat lancar dan sebagainya,” pungkasnya.***
