Kudus, Kabupaten kecil yang sarat dengan sejarah dan kebudayaan Islam, kini memasuki babak baru di bawah kepemimpinan Muhammad Hasan Chabibie sebagai Penjabat (Pj) Bupati. Berbagai kebijakan yang ia ambil, termasuk pelantikan pejabat di kompleks Menara Kudus, telah menarik perhatian banyak pihak, terutama tokoh-tokoh kharismatik di kota ini.
Media ini, dalam sebuah wawancara dengan Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), DR. Abdul Djalil; Ustadz H. Mc. Fatchan; dan tokoh muda Menara, Gus Ari, mencoba mendalami pandangan mereka tentang langkah Hasan Chabibie dan dampaknya terhadap masyarakat Kudus.
Di bawah bayang-bayang Menara Kudus yang ikonik, DR. Abdul Djalil memulai perbincangan tentang sosok penjabat bupati ini. Menurutnya, sebagai Ketua YM3SK, ia mengapresiasi kebijakan Hasan Chabibie saat untuk pertama kalinya dalam sejarah pemerintah kabupaten ini yakni melantik pejabat struktural baru di pemerintahannya di bawah Rajah Kalacakra, simbol mistis yang menghiasi pintu masuk kompleks Menara Kudus.
“Saya sangat mengapresiasi inisiatif ini. Pelantikan di kompleks Menara Kudus bukan hanya sekadar upacara formal, tetapi juga sebuah upaya untuk mengembalikan sejarah dan nilai-nilai luhur yang telah menjadi fondasi Kota Kudus selama ratusan tahun,” ujarnya.
Menara Kudus, lanjut Djalil, bukan sekadar monumen. Tempat ini adalah saksi bisu lahirnya pemerintahan Kabupaten Kudus, di mana bupati pertama dan kedua dimakamkan di sana.
“Dengan menggelar pelantikan di Menara, kita tidak hanya menghormati sejarah, tetapi juga mengingatkan generasi muda tentang pentingnya menjaga warisan leluhur.”
Mengenai Rajah Kalacakra, simbol yang sering dianggap memiliki kekuatan mistis, DR. Djalil memberikan perspektif lain.
“Kalacakra sering dipandang sebagai simbol magis, tetapi sebenarnya itu adalah pengingat spiritual. Ia berfungsi untuk menyucikan, bukan mencelakai. Jabatan adalah amanah, dan Kalacakra mengingatkan kita untuk menjalankan amanah itu dengan penuh tanggung jawab dan kesucian,” tegasnya.
Dirinya, sangat mengapresiasi inisiatif ini. Pelantikan di kompleks Menara Kudus bukan hanya sekadar upacara formal, tetapi juga sebuah upaya untuk mengembalikan sejarah dan nilai-nilai luhur yang telah menjadi fondasi Kota Kudus selama ratusan tahun.
“Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah tidak melupakan akar sejarahnya,” ujar DR. Abdul Djalil.
Saat ditanyakan, apa makna historis kompleks Menara Kudus bagi pemerintahan Kudus?
Dikatakannya bahwa, kompleks Menara Kudus adalah tempat kelahiran pemerintahan di Kudus. Dengan menggelar pelantikan di Menara, kita tidak hanya menghormati sejarah, tetapi juga mengingatkan generasi muda tentang pentingnya menjaga warisan leluhur
“Prasasti sejarah kita menunjukkan bahwa bupati pertama dan kedua dimakamkan di kompleks ini, menandakan bahwa sejak awal pemerintahan Kudus berpusat di sini (Kompleks Menara Kudus).”
Apa pendapat Djalil tentang simbol mistis Rajah Kalacakra yang berada di kompleks Menara?
“Rajah Kalacakra sering dipandang sebagai simbol magis, tetapi sebenarnya itu adalah pengingat spiritual. Kalacakra berfungsi untuk menyucikan, bukan mencelakai. Jika ada yang merasa takut melewatinya, mungkin itu karena mereka membawa sesuatu yang tidak bersih dalam hati atau niat mereka. Jabatan adalah amanah, dan Kalacakra mengingatkan kita untuk menjalankan amanah itu dengan penuh tanggung jawab dan kesucian,” terang dia.
Saat ditanyakan, bagaimana pelantikan di Kompleks Menara Kudus dapat memperkuat nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat Kudus?
Djawabnya bahwa, dengan pelantikan di kompleks Menara, masyarakat diajak untuk mengenang nilai-nilai yang diajarkan Sunan Kudus, seperti keadilan, kejujuran, dan kepemimpinan yang melayani.
